[Hari Ibu Bersama Ika Yudha Kurniasari] Ibu Super Bisa Juga Baper

  • Whatsapp

Indonesia menyimpan kekayaan dan potensi yang berlimpah. Namun kadang tak kita sadari, bahwa ada potensi kekayaan yang tak ternilai harganya, yakni ibu-ibu hebat yang menjadi cahaya di dalam bangsa kita.

Dengan beraneka warna karakternya, seorang ibu mendedikasikan hidupnya kepada keluarga, dan juga kepada masyarakat. Mereka melakukan tugas-tugas dan perannya sebagai ibu dan perempuan dengan penuh kerelaan, dan tak bisa tergantikan dengan bilangan materi belaka.

Muat Lebih

Yuk di momen hari Ibu 22 Desember 2019 ini, kita simak serba-serbi seorang ibu, dari Ika Yudha Kurniasari (46), caleg DPRD Jawa Tengah dari PKS 2019-2024. Menjadi seorang istri dan ibu yang membesarkan lima orang anak, bu Ika juga aktif bermasyarakat yang cinta lingkungan. Super!

Ika Yudha Kurniasari, Kader PKS yang juga Pendiri Bank Sampah Resik Becik Semarang

1. Ibu yang Juga Aktivis Bank Sampah

Bank Sampah Resik Becik (BSRB) terletak di Jalan Cokrokembang no 11 Semarang, yang juga merupakan rumah tinggal bu Ika dan keluarga. BSRB adalah program cinta lingkungan inisiasi dari Bu Ika, yang mengembangkan bank sampah dari masyarakat untuk melestarikan lingkungan.

Jangan heran saat main ke rumahnya, kita melihat aneka karung berisikan barang-barang dan bungkus plastik yang sudah tak terpakai. Sampah-sampah itu adalah setoran dari masyarakat, yang akan diganti dengan uang atau sembako bagi para penyetornya. 

Nah, sampah-sampah yang dikumpulkan tidak teronggok begitu saja. Bu Ika dan kawan-kawan pengrajin yang akan mengelola sampah menjadi aneka kerajinan tangan yang layak untuk dijual. Bisa jadi tas, tikar, tirai, yang unik dan bernilai. 

Seru dan berfaedah kan?

2. Ibu Ika dan Ibu-Ibu PKS

Selain aktif sebagai pendiri bank sampah, Bu Ika aktif juga berkecimpung di dunia politik, yakni Partai Keadilan Sejahtera. Partai yang menurut pribadi bu Ika sangat kondusif untuk tetap seimbang menjalankan perannya sebagai ibu.

“Suasana yang sangat kondusif, nyaman banget untuk semua perempuan bahkan yang sudah menikah ya. Untuk kemudian tetap beraktivitas nyemplung mengurusi masyarakat, berbakti pada bangsa dan negara ya,” tambahnya.

Waktunya juga saya sebut ramah perempuan, misalnya untuk rapat. Bapak-bapak juga biasanya pengertian untuk mencoba mencari waktu yang ibu-ibu bisa hadir dan mengikuti maksimal,Ika Yudha Kurniasari

“Misalnya untuk waktu rapat, menyesuaikan dengan waktu bagi seorang ibu. Tapi juga memungkinkan perempuan terlibat,” ujarnya dengan semangat.  

3. Ibu yang berkarir atau tidak? Tak Usah Dipertentangkan

Bu Ika mengaku memang sering membaca terkait kontroversi antara ibu-ibu bekerja atau tidak bekerja.

Kita suka terbentur pada hal yang harus dipertentangkan. Padahal menurut saya semua itu kan tergantung dari kondisi masing-masing. Tidak pernah ada kalimat yang harus nge-judge, menghakini mana yang lebih baikposisi yang mana nih. Kembali pada posisi peran dan fungsinya,

Posisi dan peran itu di antaranya adalah kewajiban sebagai hamba Allah, sebagai anak dari orang tua, sebagai istri dari suami, ibu dari anak-anak, serta yang terakhir menjadi saudara bagi masyarakat. Di saat seorang ibu ambil peran untuk ikut terlibat bersama masyarakat, termasuk bekerja, ibu sudah mengambil pilihan. Dan sudah paham konsekuensi dari pilihan tersebut untuk mengupayakan agar peran-peran lainnya tetap berjalan seimbang. 

“Sebenarnya pada saat seorang ibu bekerja, maka ia mengambil peran yang ke lima juga kan. Itu menurut saya baik-baik saja. Dalam Islam pun banyak kisah kan, terkait dulu bahkan dari jaman rasul dan sahabiyah setelahnya yang memang terlibat banyak di masyarakatnya,” ujar bu Ika. 

Sering kali bu Ika jumpai juga  juga ibu-ibu PKS yang aktif di bidang profesional seperti menjadi guru, dokter, dan profesi lainnya. 

Yang menjadi kunci adalah komunikasi dan kesepakatan dengan keluarga. Tentu perlu kerja sama ya, supaya kondisi keluarga seimbang dan selaras. Yang tak kalah penting, ridha suami harus dikantongi. Mau bekerja, mau beraktivitas di luar, tetap harus dengan ridha suami ya.

4. Ibu adalah Energi Keluarga, Ibu Juga Manusia

“Ibu itu sangat menginspirasi. Keberadaannya sangat berarti untuk anak-anaknya,” ujar Ika Yudha Kurniasari, seorang ibu lima anak yang mengajak pembaca untuk tidak menyia-nyiakan kebersamaan dengan anak-anaknya.

Bagi Ika, Ibu adalah sumber energi dan keluarga yang sangat mempengaruhi warna keluarganya. Ibu tak boleh kehabisan energi untuk membuat kebaikan-kebaikan dalam keluarga terus berjalan. “Jangan lama-lama bapernya,” tambah Ika.

Ibu jugalah manusia. Wajar jika sering merasa down. Asalkan, seorang ibu harus tahu bagaimana cara mengisi energinya kembali. Mencari titik kebahagiaan bagi bu Ika misalnya dengan menyambangi toko buku. Bu Ika pernah menghabiskan waktu sekitar 2 jam di toko buku, asyik berkutat dengan buku-buku keterampilan. Pulang dari sana, sudah terisi lagi deh energinya.

5. Bahagiakan Ibu, Sudah Apa Belum Ya?

‘Aku ingin membahagiakan ibu’. Setiap anak pasti ingin membahagiakan orang tuanya, iya kan? Buat bu Ika sendiri, apa sih yang membuatnya bahagia dari anak-anaknya?

Seorang ibu tentu menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya, termasuk bu Ika. Bu Ika menginginkan anaknya dalam kondisi terbaik, yakni memegang teguh agama. Apalagi jika sudah bisa hidup mandiri dan hidup penuh kebaikan dengan dirinya dan keluarganya, bagi ibu manapun itu sudah cukup.

Mungkin kita tidak terlalu memikirkan akan diberi apa dan sebagainya, lebih melihat anak-anaknya hidup bahagia, itu sudah cukup untuk seorang ibu.

Ibu memang manusia biasa, tapi peran ibu sangat luar biasa. Selamat Hari Ibu!




Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *