Mengenang Perjuangan Ustadz Hilmi di Era Permulaan Dakwah PKS ( oleh Aus Hidayat Nur)

  • Whatsapp

Oleh Aus Hidayat Nur
Habib Aboe Bakar Al Habsyi adalah orang pertama yang mengajak saya dan teman-teman mahasiswa UI mengaji kepada Ustadz Hilmi Aminuddin. Waktu itu, Habib Aboe sendiri masih sekolah di SMA Negeri 7 Jakarta. Saya bersama beberapa aktivis Masjid Arif Rahman Hakim Salemba UI memulai pengajian ini di sebuah Masjid di Jl Kebon Kacang Tanah Abang. Setelah beberapa kali berjalan rutin, pengajian pun pindah ke rumah salah satu aktivis Masjid ARH di daerah Kebon Melati. Sekitar 300 meter dari rumah Ustadz Hilmi.

Ustadz Hilmi memberikan pemahaman Islam yang aplikatif dan sesuai dengan semangat muda dari teman-teman aktivis dakwah saat itu. Penampilan beliau sangat jauh berbeda dari penampilan seorang Syaikh atau Ustadz. Beliau tidak memelihara janggut ataupun kumis, tidak berbaju koko atau sarung, bahkan sering pakai kaos atau baju batik. Saya teringat saat beliau pertama kali mengajar kami. Mengenakan kopiah nasional hitam dan berbaju batik warna coklat. Saat itu ada seorang sahabat berbisik kepada saya, “Jangan-jangan ini ustadz nasionalis, karena dia pakai batik.”

Penampilannya tentu kontras dengan tampilan aktivis dakwah kampus pada umumnya saat itu. Terlebih terkait batik yang saat itu hampir tidak dikenakan oleh para aktivis dakwah kampus, bahkan cenderung enggan berbusana batik karena busana itu terlalu dipopulerkan oleh rezim Soeharto yang dianggap memusuhi dakwah Islam. Sehingga, teman-teman mahasiswa biasanya memilih berbaju koko putih atau mengenakan peci putih. Maka begitu melihat Ustadz (Hilmi) dengan penampilan tanpa jenggot, berbaju batik dan berpeci nasional, seketika dianggap bukan aktivis dakwah.

Sejujurnya, saya dan teman-teman mendapatkan banyak sekali pencerahan dari Ustadz Hilmi. Beliau mengajar sangat sistematis dan di akhir pelajaran selalu memberikan kepada Kami pointers berupa skema pelajaran yang disebut Rosmul Bayan, berbentuk bagan yang sangat memudahkan kami dalam menyerap pelajaran yang Beliau sampaikan. Ketika perjumpaan pertama saat itu, Beliau memberikan taujih tentang ‘As-shiro’ baynal Haq wal Bathil’ (pertarungan antara kebenaran dan kebathilan). Penjelasan yang begitu gamblang dari beliau membuat saya terkesima, seperti menemukan suatu kebenaran yang indah, yang baru dan istimewa. Saya merasakan getaran peningkatan iman yang luar biasa, karena apa yang dijelaskan oleh Ustadz Hilmi adalah hal-hal mendasar yang sangat saya rindukan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan hati ini tentang kehidupan. Alhamdulillah, setiap penjelasan Beliau mampu membuka bashiroh (mata hati) dan menundukkan jiwa Kami untuk mengikuti kebenaran.

Sejak menjadi murid-murid Ustadz Hilmi di Tenabang, kami mendapat semangat dan gairah baru yang amat berkesan. Isi pengajian Ustadz Hilmi membangun kecintaan kepada Allah, Rasul, Islam, Al Qur’an serta perjuangan membangun Masyarakat dan Bangsa. Beliau menjelaskan Islam yang wasathan (pertengahan), melarang keyakinan yang radikal (bersikap ekstrim dan keras), serta menjelaskan Islam yang menjadi rahmatan lil alamin. Beliau menyadarkan kami dari sifat tasyadud (berlebih-lebihan) ataupun tasahul (menggampangkan) dalam beragama.

Selalu terngiang di telinga saya, nasihat Beliau, “Antum harus menjadi agen-agen rahmat (kasih sayang) Allah. Semua manusia harus kalian sayangi dengan tulus bahkan mereka yang kafir sekali pun seharusnya dapat merasakan kebaikan Islam dalam kekafirannya.”

Pengajian Ustadz Hilmi itu seperti kisah bersambung yang semakin lama semakin seru. Setiap episode pengajian Beliau selalu menarik untuk dikenang, mudah dipahami, mudah diduplikasi dalam bentuk pengajian yang serupa. Sehingga kami termotivasi menjadi agen perubahan dan turut berdakwah. Setiap penjelasan Beliau seolah rumus baru yang sangat menggugah untuk dikaji dan diamalkan. Beliau merinci ilmu yang dibagikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Contohnya ‘Mengenal Allah’, ‘Mengenal Rasul’, ‘Mengenal Islam’, ‘Makna Dua Kalimat Syahadat’, ‘Mengenal Manusia’. Begitupun ‘Makna Dakwah’, ‘Karakter Dakwah’, ‘Penataan Dakwah’, semuanya membentuk keyakinan untuk memperbanyak amal.

Begitulah. Seluruh yang Ustadz Hilmi sampaikan, mengembangkan pemikiran dan menggugah semangat untuk beramal saleh dan berdakwah. Dengan taujihat dan nasihatnya, Beliau mempersatukan hati kami dalam Iman dan Islam, serta mendidik kami untuk mengamalkannya. Beliau menuntun kami metoda dan cara berdakwah, bagaimana cara terbaik menyeru masyarakat ke jalan Allah, dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian ke Masyarakat yang lebih luas. Beliau menjadi contoh dari kesederhanaan seorang Da’i dalam bekerja keras membangun Umat. Murid-murid beliau terdiri dari berbagai kalangan; ada mahasiswa dan pelajar, aktivis pergerakan seperti GPI, Dewan Dakwah, aktivis Ormas Islam dan bahkan politisi, kalangan professional, juga kaum buruh. Hidup Beliau diisi dengan kegiatan tarbiyah dari satu pengajian ke pengajian lain. Hari-hari Beliau diisi dengan membina Pemuda untuk turut berdakwah dan menyebarkan kebaikan di tengah Masyarakat.

Jangan membayangkan Ustadz Hilmi Aminuddin seperti Da’i sekarang yang senang tampil di podium atau ceramah di media sosial, atau tampil di televisi dan radio. Beliau sering berjalan kaki dari satu gang ke gang lainnya di Kota Jakarta. Setiap kelompok pengajian selalu dihadiri meskipun jumlah pesertanya terbatas. Dalam menyampaikan nasihat, Beliau tidak menerima sepersen pun bayaran dari murid-muridnya. Beliau sangat perhatian kepada anggota pengajiannya, sehingga meninggalkan teladan dalam akhlak dan perbuatan, serta kesan mendalam di hati kami. Sesuai namanya, beliau itu santun dan lemah lembut, namun memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat sehingga selalu dipatuhi oleh para muridnya.

Ketika menyampaikan dakwah, ustadz Hilmi sangat berhati-hati, maklum pada saat itu Pemerintah Orde Baru sangat ketat melarang aktivitas yang ‘dianggap’ membahayakan kepentingan nasional. Terlebih saat terjadinya peristiwa Tanjung Priok yang mengenaskan pada tahun 1984, dengan korban umat Islam yang tidak sedikit. Tak jarang Ustadz Hilmi naik turun bus kota, Al Qur’an kecil dan kopiah hitamnya disimpan dalam gulungan kertas koran yang kemudian dikempit di lengan sambil tangan yang lain bergelantungan di pegangan bus kota.

Pada tahun 1983 hingga 1995, beliau menekankan dakwah pada pendekatan individu seperti dilakukan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya di awal dakwah mereka di Kota Makkah. Namun demikian, beliau sama sekali tidak pernah melarang muridnya untuk berdakwah melalui mimbar, podium, ataupun di radio dan televisi. Ada banyak murid beliau yang menjadi ustadz kondang melalui mimbar dakwah umum pada saat permulaan dakwah ini, seperti Ustadz Ihsan Tanjung, Ustadz Rahmat Abdullah, Ustadz Ruslan Efendi, Ustadz Ahzami Samiun Jazuli, dan lainnya. Ada pula murid beliau yang menjadi politisi seperti Ustadz Mutammimul Ula (Anggota Legislatif dari Partai Keadilan 1999 – 2004), Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika 2009 – 2014), Suswono (Menteri Pertanian 2009 – 2014), Suharna Surapranata (Menteri Riset dan Teknologi 2009 – 2011), Yusuf Asy’ari (Mentri Perumahan Rakyat 2004 – 2009), Ustadzah Yoyoh Yusroh (Politisi Perempuan), TB Sunmanjaya Rukmandis, Irwan Prayitno (Gubernur Sumatra Barat), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat 2008 – 2018) dan lainnya yang dikenal sebagai pejuang-pejuang reformasi yang tangguh.

Meski demikian, Ustadz Hilmi Aminuddin sendiri dikenal oleh para muridnya sebagai seorang yang tidak suka popularitas, bahkan menghindari publisitas. Beliau menekankan dakwah untuk membangun organisasi kader dakwah yang kokoh dan kuat, diisi oleh kaum muda yang benar-benar memahami Islam dan mengerti tujuan-tujuan dakwah serta mampu melayani ummat dan bangsa. Beliau menjadikan tarbiyah (Pendidikan) Islam sebagai prioritas membangun kader dakwah yang tangguh. Beliau menumbuhkan dan membangun potensi murid-muridnya sesuai dengan kecenderungan dan bakat kebaikan masing-masing. Sehingga semua muridnya merasa dekat dan mencintai beliau.

Bersama Ustadz Hilmi, kami menebar kebaikan ajaran Islam ke seluruh Bumi Nusantara. Beliau membimbing kami mengenal perjuangan dan medan-medan kehidupan yang penuh dinamika dan kenangan indah. Dakwah dan Tarbiyah yang dipelopori Ustadz Hilmi dan para muridnya, alhamdulillah saat ini telah tersebar di seantero Nusantara. Tahun 1998, beliau mengajak kami mendirikan Partai Keadilan, yang di tahun 2002 bermetamorfosa menjadi PKS. Itulah sebabnya, Ustadz Hilmi Aminuddin disebut Muassis (pendiri) Partai Keadilan Sejahtera.

Habib Aboe Bakar Al Habsyi adalah orang pertama yang mengajak saya dan teman-teman mahasiswa UI mengaji kepada Ustadz Hilmi Aminuddin. Waktu itu, Habib Aboe sendiri masih sekolah di SMA Negeri 7 Jakarta. Saya bersama beberapa aktivis Masjid Arif Rahman Hakim Salemba UI memulai pengajian ini di sebuah Masjid di Jl Kebon Kacang Tanah Abang. Setelah beberapa kali berjalan rutin, pengajian pun pindah ke rumah salah satu aktivis Masjid ARH di daerah Kebon Melati. Sekitar 300 meter dari rumah Ustadz Hilmi.

Ustadz Hilmi memberikan pemahaman Islam yang aplikatif dan sesuai dengan semangat muda dari teman-teman aktivis dakwah saat itu. Penampilan beliau sangat jauh berbeda dari penampilan seorang Syaikh atau Ustadz. Beliau tidak memelihara janggut ataupun kumis, tidak berbaju koko atau sarung, bahkan sering pakai kaos atau baju batik. Saya teringat saat beliau pertama kali mengajar kami. Mengenakan kopiah nasional hitam dan berbaju batik warna coklat. Saat itu ada seorang sahabat berbisik kepada saya, “Jangan-jangan ini ustadz nasionalis, karena dia pakai batik.”

Penampilannya tentu kontras dengan tampilan aktivis dakwah kampus pada umumnya saat itu. Terlebih terkait batik yang saat itu hampir tidak dikenakan oleh para aktivis dakwah kampus, bahkan cenderung enggan berbusana batik karena busana itu terlalu dipopulerkan oleh rezim Soeharto yang dianggap memusuhi dakwah Islam. Sehingga, teman-teman mahasiswa biasanya memilih berbaju koko putih atau mengenakan peci putih. Maka begitu melihat Ustadz (Hilmi) dengan penampilan tanpa jenggot, berbaju batik dan berpeci nasional, seketika dianggap bukan aktivis dakwah.

Sejujurnya, saya dan teman-teman mendapatkan banyak sekali pencerahan dari Ustadz Hilmi. Beliau mengajar sangat sistematis dan di akhir pelajaran selalu memberikan kepada Kami pointers berupa skema pelajaran yang disebut Rosmul Bayan, berbentuk bagan yang sangat memudahkan kami dalam menyerap pelajaran yang Beliau sampaikan. Ketika perjumpaan pertama saat itu, Beliau memberikan taujih tentang ‘As-shiro’ baynal Haq wal Bathil’ (pertarungan antara kebenaran dan kebathilan). Penjelasan yang begitu gamblang dari beliau membuat saya terkesima, seperti menemukan suatu kebenaran yang indah, yang baru dan istimewa. Saya merasakan getaran peningkatan iman yang luar biasa, karena apa yang dijelaskan oleh Ustadz Hilmi adalah hal-hal mendasar yang sangat saya rindukan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan hati ini tentang kehidupan. Alhamdulillah, setiap penjelasan Beliau mampu membuka bashiroh (mata hati) dan menundukkan jiwa Kami untuk mengikuti kebenaran.

Sejak menjadi murid-murid Ustadz Hilmi di Tenabang, kami mendapat semangat dan gairah baru yang amat berkesan. Isi pengajian Ustadz Hilmi membangun kecintaan kepada Allah, Rasul, Islam, Al Qur’an serta perjuangan membangun Masyarakat dan Bangsa. Beliau menjelaskan Islam yang wasathan (pertengahan), melarang keyakinan yang radikal (bersikap ekstrim dan keras), serta menjelaskan Islam yang menjadi rahmatan lil alamin. Beliau menyadarkan kami dari sifat tasyadud (berlebih-lebihan) ataupun tasahul (menggampangkan) dalam beragama.

Selalu terngiang di telinga saya, nasihat Beliau, “Antum harus menjadi agen-agen rahmat (kasih sayang) Allah. Semua manusia harus kalian sayangi dengan tulus bahkan mereka yang kafir sekali pun seharusnya dapat merasakan kebaikan Islam dalam kekafirannya.”

Pengajian Ustadz Hilmi itu seperti kisah bersambung yang semakin lama semakin seru. Setiap episode pengajian Beliau selalu menarik untuk dikenang, mudah dipahami, mudah diduplikasi dalam bentuk pengajian yang serupa. Sehingga kami termotivasi menjadi agen perubahan dan turut berdakwah. Setiap penjelasan Beliau seolah rumus baru yang sangat menggugah untuk dikaji dan diamalkan. Beliau merinci ilmu yang dibagikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Contohnya ‘Mengenal Allah’, ‘Mengenal Rasul’, ‘Mengenal Islam’, ‘Makna Dua Kalimat Syahadat’, ‘Mengenal Manusia’. Begitupun ‘Makna Dakwah’, ‘Karakter Dakwah’, ‘Penataan Dakwah’, semuanya membentuk keyakinan untuk memperbanyak amal.

Begitulah. Seluruh yang Ustadz Hilmi sampaikan, mengembangkan pemikiran dan menggugah semangat untuk beramal saleh dan berdakwah. Dengan taujihat dan nasihatnya, Beliau mempersatukan hati kami dalam Iman dan Islam, serta mendidik kami untuk mengamalkannya. Beliau menuntun kami metoda dan cara berdakwah, bagaimana cara terbaik menyeru masyarakat ke jalan Allah, dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian ke Masyarakat yang lebih luas. Beliau menjadi contoh dari kesederhanaan seorang Da’i dalam bekerja keras membangun Umat. Murid-murid beliau terdiri dari berbagai kalangan; ada mahasiswa dan pelajar, aktivis pergerakan seperti GPI, Dewan Dakwah, aktivis Ormas Islam dan bahkan politisi, kalangan professional, juga kaum buruh. Hidup Beliau diisi dengan kegiatan tarbiyah dari satu pengajian ke pengajian lain. Hari-hari Beliau diisi dengan membina Pemuda untuk turut berdakwah dan menyebarkan kebaikan di tengah Masyarakat.

Jangan membayangkan Ustadz Hilmi Aminuddin seperti Da’i sekarang yang senang tampil di podium atau ceramah di media sosial, atau tampil di televisi dan radio. Beliau sering berjalan kaki dari satu gang ke gang lainnya di Kota Jakarta. Setiap kelompok pengajian selalu dihadiri meskipun jumlah pesertanya terbatas. Dalam menyampaikan nasihat, Beliau tidak menerima sepersen pun bayaran dari murid-muridnya. Beliau sangat perhatian kepada anggota pengajiannya, sehingga meninggalkan teladan dalam akhlak dan perbuatan, serta kesan mendalam di hati kami. Sesuai namanya, beliau itu santun dan lemah lembut, namun memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat sehingga selalu dipatuhi oleh para muridnya.

Ketika menyampaikan dakwah, ustadz Hilmi sangat berhati-hati, maklum pada saat itu Pemerintah Orde Baru sangat ketat melarang aktivitas yang ‘dianggap’ membahayakan kepentingan nasional. Terlebih saat terjadinya peristiwa Tanjung Priok yang mengenaskan pada tahun 1984, dengan korban umat Islam yang tidak sedikit. Tak jarang Ustadz Hilmi naik turun bus kota, Al Qur’an kecil dan kopiah hitamnya disimpan dalam gulungan kertas koran yang kemudian dikempit di lengan sambil tangan yang lain bergelantungan di pegangan bus kota.

Pada tahun 1983 hingga 1995, beliau menekankan dakwah pada pendekatan individu seperti dilakukan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya di awal dakwah mereka di Kota Makkah. Namun demikian, beliau sama sekali tidak pernah melarang muridnya untuk berdakwah melalui mimbar, podium, ataupun di radio dan televisi. Ada banyak murid beliau yang menjadi ustadz kondang melalui mimbar dakwah umum pada saat permulaan dakwah ini, seperti Ustadz Ihsan Tanjung, Ustadz Rahmat Abdullah, Ustadz Ruslan Efendi, Ustadz Ahzami Samiun Jazuli, dan lainnya. Ada pula murid beliau yang menjadi politisi seperti Ustadz Mutammimul Ula (Anggota Legislatif dari Partai Keadilan 1999 – 2004), Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika 2009 – 2014), Suswono (Menteri Pertanian 2009 – 2014), Suharna Surapranata (Menteri Riset dan Teknologi 2009 – 2011), Yusuf Asy’ari (Mentri Perumahan Rakyat 2004 – 2009), Ustadzah Yoyoh Yusroh (Politisi Perempuan), TB Sunmanjaya Rukmandis, Irwan Prayitno (Gubernur Sumatra Barat), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat 2008 – 2018) dan lainnya yang dikenal sebagai pejuang-pejuang reformasi yang tangguh.

Meski demikian, Ustadz Hilmi Aminuddin sendiri dikenal oleh para muridnya sebagai seorang yang tidak suka popularitas, bahkan menghindari publisitas. Beliau menekankan dakwah untuk membangun organisasi kader dakwah yang kokoh dan kuat, diisi oleh kaum muda yang benar-benar memahami Islam dan mengerti tujuan-tujuan dakwah serta mampu melayani ummat dan bangsa. Beliau menjadikan tarbiyah (Pendidikan) Islam sebagai prioritas membangun kader dakwah yang tangguh. Beliau menumbuhkan dan membangun potensi murid-muridnya sesuai dengan kecenderungan dan bakat kebaikan masing-masing. Sehingga semua muridnya merasa dekat dan mencintai beliau.

Bersama Ustadz Hilmi, kami menebar kebaikan ajaran Islam ke seluruh Bumi Nusantara. Beliau membimbing kami mengenal perjuangan dan medan-medan kehidupan yang penuh dinamika dan kenangan indah. Dakwah dan Tarbiyah yang dipelopori Ustadz Hilmi dan para muridnya, alhamdulillah saat ini telah tersebar di seantero Nusantara. Tahun 1998, beliau mengajak kami mendirikan Partai Keadilan, yang di tahun 2002 bermetamorfosa menjadi PKS. Itulah sebabnya, Ustadz Hilmi Aminuddin disebut Muassis (pendiri) Partai Keadilan Sejahtera.

Habib Aboe Bakar Al Habsyi adalah orang pertama yang mengajak saya dan teman-teman mahasiswa UI mengaji kepada Ustadz Hilmi Aminuddin. Waktu itu, Habib Aboe sendiri masih sekolah di SMA Negeri 7 Jakarta. Saya bersama beberapa aktivis Masjid Arif Rahman Hakim Salemba UI memulai pengajian ini di sebuah Masjid di Jl Kebon Kacang Tanah Abang. Setelah beberapa kali berjalan rutin, pengajian pun pindah ke rumah salah satu aktivis Masjid ARH di daerah Kebon Melati. Sekitar 300 meter dari rumah Ustadz Hilmi.

Ustadz Hilmi memberikan pemahaman Islam yang aplikatif dan sesuai dengan semangat muda dari teman-teman aktivis dakwah saat itu. Penampilan beliau sangat jauh berbeda dari penampilan seorang Syaikh atau Ustadz. Beliau tidak memelihara janggut ataupun kumis, tidak berbaju koko atau sarung, bahkan sering pakai kaos atau baju batik. Saya teringat saat beliau pertama kali mengajar kami. Mengenakan kopiah nasional hitam dan berbaju batik warna coklat. Saat itu ada seorang sahabat berbisik kepada saya, “Jangan-jangan ini ustadz nasionalis, karena dia pakai batik.”

Penampilannya tentu kontras dengan tampilan aktivis dakwah kampus pada umumnya saat itu. Terlebih terkait batik yang saat itu hampir tidak dikenakan oleh para aktivis dakwah kampus, bahkan cenderung enggan berbusana batik karena busana itu terlalu dipopulerkan oleh rezim Soeharto yang dianggap memusuhi dakwah Islam. Sehingga, teman-teman mahasiswa biasanya memilih berbaju koko putih atau mengenakan peci putih. Maka begitu melihat Ustadz (Hilmi) dengan penampilan tanpa jenggot, berbaju batik dan berpeci nasional, seketika dianggap bukan aktivis dakwah.

Sejujurnya, saya dan teman-teman mendapatkan banyak sekali pencerahan dari Ustadz Hilmi. Beliau mengajar sangat sistematis dan di akhir pelajaran selalu memberikan kepada Kami pointers berupa skema pelajaran yang disebut Rosmul Bayan, berbentuk bagan yang sangat memudahkan kami dalam menyerap pelajaran yang Beliau sampaikan. Ketika perjumpaan pertama saat itu, Beliau memberikan taujih tentang ‘As-shiro’ baynal Haq wal Bathil’ (pertarungan antara kebenaran dan kebathilan). Penjelasan yang begitu gamblang dari beliau membuat saya terkesima, seperti menemukan suatu kebenaran yang indah, yang baru dan istimewa. Saya merasakan getaran peningkatan iman yang luar biasa, karena apa yang dijelaskan oleh Ustadz Hilmi adalah hal-hal mendasar yang sangat saya rindukan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan hati ini tentang kehidupan. Alhamdulillah, setiap penjelasan Beliau mampu membuka bashiroh (mata hati) dan menundukkan jiwa Kami untuk mengikuti kebenaran.

Sejak menjadi murid-murid Ustadz Hilmi di Tenabang, kami mendapat semangat dan gairah baru yang amat berkesan. Isi pengajian Ustadz Hilmi membangun kecintaan kepada Allah, Rasul, Islam, Al Qur’an serta perjuangan membangun Masyarakat dan Bangsa. Beliau menjelaskan Islam yang wasathan (pertengahan), melarang keyakinan yang radikal (bersikap ekstrim dan keras), serta menjelaskan Islam yang menjadi rahmatan lil alamin. Beliau menyadarkan kami dari sifat tasyadud (berlebih-lebihan) ataupun tasahul (menggampangkan) dalam beragama.

Selalu terngiang di telinga saya, nasihat Beliau, “Antum harus menjadi agen-agen rahmat (kasih sayang) Allah. Semua manusia harus kalian sayangi dengan tulus bahkan mereka yang kafir sekali pun seharusnya dapat merasakan kebaikan Islam dalam kekafirannya.”

Pengajian Ustadz Hilmi itu seperti kisah bersambung yang semakin lama semakin seru. Setiap episode pengajian Beliau selalu menarik untuk dikenang, mudah dipahami, mudah diduplikasi dalam bentuk pengajian yang serupa. Sehingga kami termotivasi menjadi agen perubahan dan turut berdakwah. Setiap penjelasan Beliau seolah rumus baru yang sangat menggugah untuk dikaji dan diamalkan. Beliau merinci ilmu yang dibagikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Contohnya ‘Mengenal Allah’, ‘Mengenal Rasul’, ‘Mengenal Islam’, ‘Makna Dua Kalimat Syahadat’, ‘Mengenal Manusia’. Begitupun ‘Makna Dakwah’, ‘Karakter Dakwah’, ‘Penataan Dakwah’, semuanya membentuk keyakinan untuk memperbanyak amal.

Begitulah. Seluruh yang Ustadz Hilmi sampaikan, mengembangkan pemikiran dan menggugah semangat untuk beramal saleh dan berdakwah. Dengan taujihat dan nasihatnya, Beliau mempersatukan hati kami dalam Iman dan Islam, serta mendidik kami untuk mengamalkannya. Beliau menuntun kami metoda dan cara berdakwah, bagaimana cara terbaik menyeru masyarakat ke jalan Allah, dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian ke Masyarakat yang lebih luas. Beliau menjadi contoh dari kesederhanaan seorang Da’i dalam bekerja keras membangun Umat. Murid-murid beliau terdiri dari berbagai kalangan; ada mahasiswa dan pelajar, aktivis pergerakan seperti GPI, Dewan Dakwah, aktivis Ormas Islam dan bahkan politisi, kalangan professional, juga kaum buruh. Hidup Beliau diisi dengan kegiatan tarbiyah dari satu pengajian ke pengajian lain. Hari-hari Beliau diisi dengan membina Pemuda untuk turut berdakwah dan menyebarkan kebaikan di tengah Masyarakat.

Jangan membayangkan Ustadz Hilmi Aminuddin seperti Da’i sekarang yang senang tampil di podium atau ceramah di media sosial, atau tampil di televisi dan radio. Beliau sering berjalan kaki dari satu gang ke gang lainnya di Kota Jakarta. Setiap kelompok pengajian selalu dihadiri meskipun jumlah pesertanya terbatas. Dalam menyampaikan nasihat, Beliau tidak menerima sepersen pun bayaran dari murid-muridnya. Beliau sangat perhatian kepada anggota pengajiannya, sehingga meninggalkan teladan dalam akhlak dan perbuatan, serta kesan mendalam di hati kami. Sesuai namanya, beliau itu santun dan lemah lembut, namun memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat sehingga selalu dipatuhi oleh para muridnya.

Ketika menyampaikan dakwah, ustadz Hilmi sangat berhati-hati, maklum pada saat itu Pemerintah Orde Baru sangat ketat melarang aktivitas yang ‘dianggap’ membahayakan kepentingan nasional. Terlebih saat terjadinya peristiwa Tanjung Priok yang mengenaskan pada tahun 1984, dengan korban umat Islam yang tidak sedikit. Tak jarang Ustadz Hilmi naik turun bus kota, Al Qur’an kecil dan kopiah hitamnya disimpan dalam gulungan kertas koran yang kemudian dikempit di lengan sambil tangan yang lain bergelantungan di pegangan bus kota.

Pada tahun 1983 hingga 1995, beliau menekankan dakwah pada pendekatan individu seperti dilakukan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya di awal dakwah mereka di Kota Makkah. Namun demikian, beliau sama sekali tidak pernah melarang muridnya untuk berdakwah melalui mimbar, podium, ataupun di radio dan televisi. Ada banyak murid beliau yang menjadi ustadz kondang melalui mimbar dakwah umum pada saat permulaan dakwah ini, seperti Ustadz Ihsan Tanjung, Ustadz Rahmat Abdullah, Ustadz Ruslan Efendi, Ustadz Ahzami Samiun Jazuli, dan lainnya. Ada pula murid beliau yang menjadi politisi seperti Ustadz Mutammimul Ula (Anggota Legislatif dari Partai Keadilan 1999 – 2004), Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika 2009 – 2014), Suswono (Menteri Pertanian 2009 – 2014), Suharna Surapranata (Menteri Riset dan Teknologi 2009 – 2011), Yusuf Asy’ari (Mentri Perumahan Rakyat 2004 – 2009), Ustadzah Yoyoh Yusroh (Politisi Perempuan), TB Sunmanjaya Rukmandis, Irwan Prayitno (Gubernur Sumatra Barat), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat 2008 – 2018) dan lainnya yang dikenal sebagai pejuang-pejuang reformasi yang tangguh.

Meski demikian, Ustadz Hilmi Aminuddin sendiri dikenal oleh para muridnya sebagai seorang yang tidak suka popularitas, bahkan menghindari publisitas. Beliau menekankan dakwah untuk membangun organisasi kader dakwah yang kokoh dan kuat, diisi oleh kaum muda yang benar-benar memahami Islam dan mengerti tujuan-tujuan dakwah serta mampu melayani ummat dan bangsa. Beliau menjadikan tarbiyah (Pendidikan) Islam sebagai prioritas membangun kader dakwah yang tangguh. Beliau menumbuhkan dan membangun potensi murid-muridnya sesuai dengan kecenderungan dan bakat kebaikan masing-masing. Sehingga semua muridnya merasa dekat dan mencintai beliau.

Bersama Ustadz Hilmi, kami menebar kebaikan ajaran Islam ke seluruh Bumi Nusantara. Beliau membimbing kami mengenal perjuangan dan medan-medan kehidupan yang penuh dinamika dan kenangan indah. Dakwah dan Tarbiyah yang dipelopori Ustadz Hilmi dan para muridnya, alhamdulillah saat ini telah tersebar di seantero Nusantara. Tahun 1998, beliau mengajak kami mendirikan Partai Keadilan, yang di tahun 2002 bermetamorfosa menjadi PKS. Itulah sebabnya, Ustadz Hilmi Aminuddin disebut Muassis (pendiri) Partai Keadilan Sejahtera.

Habib Aboe Bakar Al Habsyi adalah orang pertama yang mengajak saya dan teman-teman mahasiswa UI mengaji kepada Ustadz Hilmi Aminuddin. Waktu itu, Habib Aboe sendiri masih sekolah di SMA Negeri 7 Jakarta. Saya bersama beberapa aktivis Masjid Arif Rahman Hakim Salemba UI memulai pengajian ini di sebuah Masjid di Jl Kebon Kacang Tanah Abang. Setelah beberapa kali berjalan rutin, pengajian pun pindah ke rumah salah satu aktivis Masjid ARH di daerah Kebon Melati. Sekitar 300 meter dari rumah Ustadz Hilmi.

Ustadz Hilmi memberikan pemahaman Islam yang aplikatif dan sesuai dengan semangat muda dari teman-teman aktivis dakwah saat itu. Penampilan beliau sangat jauh berbeda dari penampilan seorang Syaikh atau Ustadz. Beliau tidak memelihara janggut ataupun kumis, tidak berbaju koko atau sarung, bahkan sering pakai kaos atau baju batik. Saya teringat saat beliau pertama kali mengajar kami. Mengenakan kopiah nasional hitam dan berbaju batik warna coklat. Saat itu ada seorang sahabat berbisik kepada saya, “Jangan-jangan ini ustadz nasionalis, karena dia pakai batik.”

Penampilannya tentu kontras dengan tampilan aktivis dakwah kampus pada umumnya saat itu. Terlebih terkait batik yang saat itu hampir tidak dikenakan oleh para aktivis dakwah kampus, bahkan cenderung enggan berbusana batik karena busana itu terlalu dipopulerkan oleh rezim Soeharto yang dianggap memusuhi dakwah Islam. Sehingga, teman-teman mahasiswa biasanya memilih berbaju koko putih atau mengenakan peci putih. Maka begitu melihat Ustadz (Hilmi) dengan penampilan tanpa jenggot, berbaju batik dan berpeci nasional, seketika dianggap bukan aktivis dakwah.

Sejujurnya, saya dan teman-teman mendapatkan banyak sekali pencerahan dari Ustadz Hilmi. Beliau mengajar sangat sistematis dan di akhir pelajaran selalu memberikan kepada Kami pointers berupa skema pelajaran yang disebut Rosmul Bayan, berbentuk bagan yang sangat memudahkan kami dalam menyerap pelajaran yang Beliau sampaikan. Ketika perjumpaan pertama saat itu, Beliau memberikan taujih tentang ‘As-shiro’ baynal Haq wal Bathil’ (pertarungan antara kebenaran dan kebathilan). Penjelasan yang begitu gamblang dari beliau membuat saya terkesima, seperti menemukan suatu kebenaran yang indah, yang baru dan istimewa. Saya merasakan getaran peningkatan iman yang luar biasa, karena apa yang dijelaskan oleh Ustadz Hilmi adalah hal-hal mendasar yang sangat saya rindukan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan hati ini tentang kehidupan. Alhamdulillah, setiap penjelasan Beliau mampu membuka bashiroh (mata hati) dan menundukkan jiwa Kami untuk mengikuti kebenaran.

Sejak menjadi murid-murid Ustadz Hilmi di Tenabang, kami mendapat semangat dan gairah baru yang amat berkesan. Isi pengajian Ustadz Hilmi membangun kecintaan kepada Allah, Rasul, Islam, Al Qur’an serta perjuangan membangun Masyarakat dan Bangsa. Beliau menjelaskan Islam yang wasathan (pertengahan), melarang keyakinan yang radikal (bersikap ekstrim dan keras), serta menjelaskan Islam yang menjadi rahmatan lil alamin. Beliau menyadarkan kami dari sifat tasyadud (berlebih-lebihan) ataupun tasahul (menggampangkan) dalam beragama.

Selalu terngiang di telinga saya, nasihat Beliau, “Antum harus menjadi agen-agen rahmat (kasih sayang) Allah. Semua manusia harus kalian sayangi dengan tulus bahkan mereka yang kafir sekali pun seharusnya dapat merasakan kebaikan Islam dalam kekafirannya.”

Pengajian Ustadz Hilmi itu seperti kisah bersambung yang semakin lama semakin seru. Setiap episode pengajian Beliau selalu menarik untuk dikenang, mudah dipahami, mudah diduplikasi dalam bentuk pengajian yang serupa. Sehingga kami termotivasi menjadi agen perubahan dan turut berdakwah. Setiap penjelasan Beliau seolah rumus baru yang sangat menggugah untuk dikaji dan diamalkan. Beliau merinci ilmu yang dibagikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Contohnya ‘Mengenal Allah’, ‘Mengenal Rasul’, ‘Mengenal Islam’, ‘Makna Dua Kalimat Syahadat’, ‘Mengenal Manusia’. Begitupun ‘Makna Dakwah’, ‘Karakter Dakwah’, ‘Penataan Dakwah’, semuanya membentuk keyakinan untuk memperbanyak amal.

Begitulah. Seluruh yang Ustadz Hilmi sampaikan, mengembangkan pemikiran dan menggugah semangat untuk beramal saleh dan berdakwah. Dengan taujihat dan nasihatnya, Beliau mempersatukan hati kami dalam Iman dan Islam, serta mendidik kami untuk mengamalkannya. Beliau menuntun kami metoda dan cara berdakwah, bagaimana cara terbaik menyeru masyarakat ke jalan Allah, dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian ke Masyarakat yang lebih luas. Beliau menjadi contoh dari kesederhanaan seorang Da’i dalam bekerja keras membangun Umat. Murid-murid beliau terdiri dari berbagai kalangan; ada mahasiswa dan pelajar, aktivis pergerakan seperti GPI, Dewan Dakwah, aktivis Ormas Islam dan bahkan politisi, kalangan professional, juga kaum buruh. Hidup Beliau diisi dengan kegiatan tarbiyah dari satu pengajian ke pengajian lain. Hari-hari Beliau diisi dengan membina Pemuda untuk turut berdakwah dan menyebarkan kebaikan di tengah Masyarakat.

Jangan membayangkan Ustadz Hilmi Aminuddin seperti Da’i sekarang yang senang tampil di podium atau ceramah di media sosial, atau tampil di televisi dan radio. Beliau sering berjalan kaki dari satu gang ke gang lainnya di Kota Jakarta. Setiap kelompok pengajian selalu dihadiri meskipun jumlah pesertanya terbatas. Dalam menyampaikan nasihat, Beliau tidak menerima sepersen pun bayaran dari murid-muridnya. Beliau sangat perhatian kepada anggota pengajiannya, sehingga meninggalkan teladan dalam akhlak dan perbuatan, serta kesan mendalam di hati kami. Sesuai namanya, beliau itu santun dan lemah lembut, namun memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat sehingga selalu dipatuhi oleh para muridnya.

Ketika menyampaikan dakwah, ustadz Hilmi sangat berhati-hati, maklum pada saat itu Pemerintah Orde Baru sangat ketat melarang aktivitas yang ‘dianggap’ membahayakan kepentingan nasional. Terlebih saat terjadinya peristiwa Tanjung Priok yang mengenaskan pada tahun 1984, dengan korban umat Islam yang tidak sedikit. Tak jarang Ustadz Hilmi naik turun bus kota, Al Qur’an kecil dan kopiah hitamnya disimpan dalam gulungan kertas koran yang kemudian dikempit di lengan sambil tangan yang lain bergelantungan di pegangan bus kota.

Pada tahun 1983 hingga 1995, beliau menekankan dakwah pada pendekatan individu seperti dilakukan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya di awal dakwah mereka di Kota Makkah. Namun demikian, beliau sama sekali tidak pernah melarang muridnya untuk berdakwah melalui mimbar, podium, ataupun di radio dan televisi. Ada banyak murid beliau yang menjadi ustadz kondang melalui mimbar dakwah umum pada saat permulaan dakwah ini, seperti Ustadz Ihsan Tanjung, Ustadz Rahmat Abdullah, Ustadz Ruslan Efendi, Ustadz Ahzami Samiun Jazuli, dan lainnya. Ada pula murid beliau yang menjadi politisi seperti Ustadz Mutammimul Ula (Anggota Legislatif dari Partai Keadilan 1999 – 2004), Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika 2009 – 2014), Suswono (Menteri Pertanian 2009 – 2014), Suharna Surapranata (Menteri Riset dan Teknologi 2009 – 2011), Yusuf Asy’ari (Mentri Perumahan Rakyat 2004 – 2009), Ustadzah Yoyoh Yusroh (Politisi Perempuan), TB Sunmanjaya Rukmandis, Irwan Prayitno (Gubernur Sumatra Barat), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat 2008 – 2018) dan lainnya yang dikenal sebagai pejuang-pejuang reformasi yang tangguh.

Meski demikian, Ustadz Hilmi Aminuddin sendiri dikenal oleh para muridnya sebagai seorang yang tidak suka popularitas, bahkan menghindari publisitas. Beliau menekankan dakwah untuk membangun organisasi kader dakwah yang kokoh dan kuat, diisi oleh kaum muda yang benar-benar memahami Islam dan mengerti tujuan-tujuan dakwah serta mampu melayani ummat dan bangsa. Beliau menjadikan tarbiyah (Pendidikan) Islam sebagai prioritas membangun kader dakwah yang tangguh. Beliau menumbuhkan dan membangun potensi murid-muridnya sesuai dengan kecenderungan dan bakat kebaikan masing-masing. Sehingga semua muridnya merasa dekat dan mencintai beliau.

Bersama Ustadz Hilmi, kami menebar kebaikan ajaran Islam ke seluruh Bumi Nusantara. Beliau membimbing kami mengenal perjuangan dan medan-medan kehidupan yang penuh dinamika dan kenangan indah. Dakwah dan Tarbiyah yang dipelopori Ustadz Hilmi dan para muridnya, alhamdulillah saat ini telah tersebar di seantero Nusantara. Tahun 1998, beliau mengajak kami mendirikan Partai Keadilan, yang di tahun 2002 bermetamorfosa menjadi PKS. Itulah sebabnya, Ustadz Hilmi Aminuddin disebut Muassis (pendiri) Partai Keadilan Sejahtera.

Rabu, 1 Juli 2020
Aus Hidayat Nur.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *