[ Taujih ] Ciri Ciri Orang Mukmin

  • Whatsapp

Zuber Safawi, S. HI

Menulis artikel yang berjudul ciri ciri orang mukmin itu susah, karena dari referensi yang ada pun berbeda beda. Tergantung orang tersebut mau ambil dari sisi mana ia akan menulis. Memang, ciri orang mukmin itu ada pada pribadi Rasulullah SAW, namun menggambarkan seluruh pribadi Rasul itu walaupun sudah ditulis berlembar lembar kitab pun kadang masih ada yang tercecer banyak sekali.

Muat Lebih

Saya akan mencoba menulis yang pokok pokok saja, itupun pasti ada tulisan yang lain tentang ciri orang mukmin yang berbeda dengan tulisan ini. Belum kalau kita memasuki wilayah perbedaan yang sudah barang tentu akan semakin banyak perbedaan terjadi. Betapapun ada banyak perbedaan kami tetap akan mencoba menulis pokok-pokok dari ciri-ciri orang mukmin.

Kami akan coba menggunakan ayat ayat suci Al Qur’an yang menggunakan awalan “Innama”, yang artinya adalah hanyalah, atau yang disebut adatul hasr

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal
[Surat Al-Anfal: 2]

Setidaknya dalam ayat ini ada 3 kelompok manusia. Pertama, adalah golongan orang orang yang kalau nama Allah disebut bergetarlah hatinya karena takut padaNya, sehingga ia mau menuruti semua aturan aturanNya.

Az-Zajaj mengatakan, “Maksudnya, apabila disebutkan tentang kebesaran dan kekuasaan-Nya dan ancaman hukuman yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya maka hati mereka pun merasa takut.” (lihat Zaadul Masir, hal. 540)

Umair bin Habib radhiyallahu’anhu berkata, “Iman mengalami penambahan dan pengurangan.” Ada yang bertanya, “Dengan apa penambahannya?” Beliau menjawab, “Apabila kita mengingat Allah ‘azza wa jalla dan memuji-Nya maka itulah penambahannya. Apabila kita lupa dan lalai makaitulahpengurangannya.” (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 511)

Ibnu‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Orang-orang munafik itu tidak pernah sedikit pun meresap dzikir kepada Allah ke dalam hatinya pada saat mereka melakukan amal-amal yang diwajibkan-Nya. Mereka sama sekali tidak mengimani ayat-ayat Allah. Mereka juga tidak bertawakal [kepada Allah]. Mereka tidak mengerjakan sholat apabila dalam keadaan tidak bersama orang. Mereka pun tidak menunaikan zakat dari harta-harta mereka. Oleh sebab itulah Allah mengabarkan bahwasanya mereka itu memang bukan termasuk golongan orang-orang yang beriman.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/11])

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud dari ungkapan ‘bergetarlah hati mereka’, kata beliau, “Yaitu mereka merasa takut kepada-Nya sehingga mereka pun melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya.” (lihat Tafsir Al-Qur’an al-’Azhim [4/11]

Yang kedua, adalah bertambah keimanannya manakala ayat ayat Qur’an di baca, karena mereka faham maknanya, dan hatinya tersentuh oleh pesan pesan AlQur’an tersebut.

Ketika menjelaskan makna dari ‘apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah imannya’, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Di dalamnya terkandung dalil bahwasanya seringkali seorang lebih banyak mendapatkan faidah karena bacaan [Al-Qur’an] oleh orang lain daripada bacaan oleh dirinya sendiri…” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/30])

Yang ketiga adalah orang orang yang tawakkal hatinya pada Allah SWT. Ayat kedua surat Al-Anfal tersebut dilanjutkan dengan ayat ketiga yang merupakan lanjutan ayat kedua, ayat ketiga tersebut tersambung dengan kalimat “alladziina” yang merupakan isim maushul dari ayat yang kedua,

ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ
(Yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
[Surat Al-Anfal: 3]

Dalam ayat ini tersebutkan dua kelompok lanjutan dari ayat yang kedua yakni orang yang menegakkan sholatnya, sholatnya bisa dilaksanakan tepat waktu dan dengan keadaan khusyu’ serta berdampak pada kehidupan kehidupan selanjutnya. Menurut Jarjani Usman dalam tulisannya beliau mengatakan, menurut para ulama, orang-orang yang sudah mendirikan shalat pun belum tentu sudah menegakkan shalat. Mendirikan shalat dimaknakan sebagai proses melakukan shalat dengan rukun-rukunnya yang teratur. Pada fase mendirikan shalat saja, banyak orang yang tidak melaksanakannya. Sedangkan menegakkan shalat lebih jauh lagi maknanya. Yaitu, adanya pengaruh shalat terhadap seluruh perilaku sehari-hari. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Al Ankabut: 45).

Selanjutnya ayat ini mengatakan orang orang yang mau menginfakkan sebagian hartanya yang telah diberikan oleh Allah, baik melalui kewajiban zakat maupun melalui infak infak sunnah yang banyak diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dr Fadhl, mengatakan dalam tulisannya bahwa Imam Ar Rozi mengatakan
Imam Ar-Razi berkata, ‘Firman Allah: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya” adalah realisasi dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ يَوْمِ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا : اَللَّهُمِّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفَا، وَيَقُوْلُ الآْخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفَا
“Tidaklah para hamba berada di pagi hari, melainkan pada pagi itu terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak’, sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan (harta) kepada orang yang menahan (hartanya)….” [Al-Hadits]. Yang demikian itu karena Allah adalah Penguasa, Mahatinggi dan Mahakaya. Maka jika Dia berkata : “Nafkahkanlah dan Aku yang akan menggantinya”, maka itu sama dengan janji yang pasti Ia tepati. Sebagaimana jika Dia berkata : ‘Lemparkalah barangmu ke dalam laut dan Aku menjaminnya” Maka, barangsiapa berinfak berarti dia telah memenuhi syarat untuk mendapatkan ganti. Sebaliknya, siapa yang tidak berinfak maka hartanya akan lenyap dan dia tidak berhak mendapatkan ganti. Hartanya akan hilang tanpa diganti, artinya lenyap begitu saja.

Ayat berikutnya yang menggunakan awalan “innama” adalah

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.
[Surat Al-Hujurat: 10]

Dari ayat ini juga terkumpul dua kelompok lagi yakni, orang yang bersaudara karena Allah, persaudaraan yang keeratannya seperti saudara kandung sebagaimana tergambarkan pada para shohabat Rasulullah SAW, dalam buletin ‘nasehat sahabat’ adminnya menuliskan sebagai berikut:

Bersaudara dan bersahabat yang hakiki adalah atas dasar keimanan. Dari bangsa dan negara mana pun, seorang Muslim adalah saudara kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Sesungguhnya, orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
[Al-Hujurat: 10]

Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Seorang Mukmin dengan Mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan
[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu]


Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi dan berlemah lembut di antara mereka, bagaikan satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit, hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.
[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ bersabda:
إن المؤمن من أهل الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد, يألم المؤمن لأهل الإيمان كما يألم الجسد في الرأس
Sesungguhnya (hubungan) orang Mukmin dengan orang-orang yang beriman adalah seperti (hubungan) kepala dengan seluruh badan. Seorang Mukmin akan merasakan sakit karena orang Mukmin lainnya, sebagaimana badan akan merasa sakit karena sakit pada kepala
[Hadis ini diriwayatkan sendiri oleh Imam Ahmad].

Rasulullah ﷺ bersabda:
المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه
Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh menzalimi dan membiarkannya (dizalimi).
[HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad].

Rasulullah ﷺ bersabda:
والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه
Allah akan terus menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.

Rasulullah ﷺ bersabda:
إذا دعا المسلم لأخيه بظهر الغيب قال الملك آمين ولك مثله
Jika seorang Muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka malaikat akan mengucapkan: Aamiin, dan bagimu sepertinya.

Sedang ayat berikutnya adalah bertaqwa pada Allah SWT sedang pada ayat ke 15 nya menyatakan

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
[Surat Al-Hujurat: 15]

Pada surat Al Hujurat ayat yang ke 15 dinyatakan orang beriman itu adalah beriman pada Allah, inilah pernyataan permulaan dan pernyataan terakhir manusia, beriman terhadap sifat sifat Allah yang di jelaskan oleh Allah sendiri maupun yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW seperti beriman tentang adanya Tuhan yakni Allah SWT, juga beriman tentang ketauhidan Allah, keMaha Mendengaran, Maha Melihat dan Maha Tahu serta keMaha Kekuasaannya dan lain lainnya.

Sebagaimana Allah telah ceritakan dalam AlQur’an dan hadits hadits Rasulullah SAW, diikuti iman pada RasulNya yang jumlahnya kami tidak mengetahui secara persis yang merupakan utusan yang suci, dan mampu melaksanakan tugas dan menggerakkan masyarakatnya untuk beriman kepada Allah SWT, yang diteruskan ketidak ragu raguan terhadap keimanannya tersebut yang di ekspresikan dalam jihad fi sabilillah dengan mengorbankan nyawa dan hartanya.

Dalam kumpulan tafsir Tarbawi dikatakan bahwa,

  1. Dari Anas bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan hartamu, jiwamu dan lidahmu.” Riwayat Ahmad dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Hakim.
    َوَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( جَاهِدُوا اَلْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ, وَأَنْفُسِكُمْ, وَأَلْسِنَتِكُمْ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ
  2. Dari ‘Aisyah r.a: Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah perempuan wajib berjihad?. Beliau menjawab: “Ya, jihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah.” Riwayat Ibnu Majah dan asalnya dalam kitab Bukhari.

َوَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! عَلَى اَلنِّسَاءِ جِهَادٌ ? قَالَ: نَعَمْ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ, اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه وَأَصْلُهُ فِي اَلْبُخَارِيّ

  1. Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada seseorang menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meminta izin ikut berjihad (perang). Beliau bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Kalau begitu, berjihadlah untuk kedua orang tuamu.” Muttafaq Alaihi.
    َوَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( جَاءَ رَجُلٌ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأْذِنُهُ فِي اَلْجِهَادِ فَقَالَ: ( أَ ) حَيٌّ وَالِدَاكَ? , قَالَ: نَعَمْ قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
  2. Ahmad dan Abu Dawud juga meriwayatkan hadits serupa dari Abu Said dengan tambahan: “Pulanglah dan mintalah izin kepada mereka. Jika mereka mengizinkan, berjihadlah, dan jika tidak, berbaktilah kepada mereka berdua.”

َوَلِأَحْمَدَ, وَأَبِي دَاوُدَ: مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ نَحْوُهُ, وَزَادَ: ( اِرْجِعْ فَاسْتَأْذِنْهُمَا, فَإِنْ أَذِنَا لَكَ; وَإِلَّا فَبِرَّهُمَا)

Kesimpulan tentang jihad fi sabilillah,
Satu di antara wujud jihad yang paling ditekankan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an adalah jihad harta dan jiwa. Dalam sejarah Islam di masa Rasulullah jihad harta dan jiwa ini menjadi amalan dominan kaum Muslimin kala itu. Dan, muslim yang melakukan jihad harta dan jiwa Allah Ta’ala tegaskan sebagai muslim yang sejati.

Baik dalam keadaan kuat maupun lemah, dalam keadaan berkecukupan maupun kekurangan maka berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Bahwasanya yang seperti itu lebih baik bagi kalian.

Orang-orang yang benar-benar beriman tidak ada keraguan dalam keimanannya, dan mereka berjihad berkat kesungguhan iman mereka dan mereka itulah orang-ornag yang benar.

Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk (karena udzur) dan Allah menjanjikan pahala yang baik yaitu surga.

Jadi menurut AlQur’an ciri orang mukmin adalah sebagai berikut;

Bergetar manakala mendengar kata Allah dikumandangkan.
Bertambah imannya manakala dibacakan ayat ayat Nya.
Bertawakkal kepada Allah.
Menegakakkan sholat.
Berinfak terhadap rizqi yang telah diberikan kepadanya.
Orang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bersaudara.
Bertaqwa kepada Allah swt.
Beriman kepada Allah.
Beriman kepada Rasul.
Tidak ada keraguan terhadap keimananya.
Berjihad dengan harta dan jiwanya.

Inilah yang sempat kami tulis, mungkin ada tambahan, mungkin ada pengurangan, mungkin ada tulisan yang lain dari yang kami tulis, semuanya akan kami terima.

Semarang, 20 November 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *