Allah Pelindung Orang Yang Beriman

  • Whatsapp

Zuber Safawi, S. HI

Jika kita hidup tanpa wali atau pelindung di muka bumi ini, maka kita akan mengalami kesulitan kesulitan yang banyak. Karena bumi yang kita tempati itu penuh dengan jebakan-jebakan dan misteri yang banyak. Sehingga manusia khawatir bila mereka hidup di sana tidak akan terjebak, dan tak mampu lagi menghindari misteri-misteri yang akan membuat mereka menderita. Mereka hidup setidak tidaknya mereka punya perasaan aman, tentram dan bahagia.

Karenanya, manusia berusaha mencari orang atau Dzat yang dirasa mampu atau memiliki kekuatan, sehingga bisa menjamin kehidupan mereka didunia. Manusia berharap pada Dzat dan manusia yang mampu menjelaskan apa sebenarnya yang mereka cari. Itulah mengapa, kok seseorang ditengah masyarakatnya ada yang sudah tenang, tentram dan bahagia hidup dalam kondisi yang sederhana dengan alat rumah tangga yang seadanya dan rumah kecil yang juga seadanya, ada juga orang yang tetap tidak mampu memiliki ketenangan walaupun mereka hidup dalam kondisi yang serba kecukupun, bahkan hidup dalam kondisi kemewahan dan tinggal dalam rumah yang cukup luas dan peralatan rumah tangga yang serba modern.

Pada sebagian manusia karena kurang memanfaatkannya indra yang dimilikinya, sehingga menjadikan manusia yang lain sebagai pelindungnya. Ada juga yang menjadikan batu sebagai pelindungnya, ada juga yang menjadikan matahari, api, gunung dan lautan sebagai pelindungnya.

Apakah manusia yang semacam ini pandangannya sudah benar dan teruji?

Apakah yang mereka sebutkan itu betul betul mampu melindunginya dari segala musibah yang menghadang mereka, seperti banjir, kebakaran, kecelakaan lalulintas, gempa bumi, gunung meletus atau sakit yang belum jelas obatnya?

Mereka pasti menjawab “tidak”, kalau itu tidak lalu siapa pelindung manusia itu?


ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ
Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.
[Surat Al-Baqarah: 257]

Al Qur’an dengan jelasnya menyampaikan bahwa pelindung atau walinya orang yang beriman adalah Allah, bukan yang lainnya. Karena yang menjadikan walinya adalah syetan dan selain Allah SWT adalah orang orang kafir.

Allah sajalah yang mengeluarkan manusia dari kegelapan pada cahaya yang terang, yang mampu menerangi jalan kehidupan mereka, Allah sajalah yang menjelaskan ketidaktahuan menuju kepada pengetahuan dan Allah jugalah yang memberitahukan melalui Al Qur’an dan sunnah Rasul perbedaan-perbedaan yang ada dimuka bumi. Sehingga, ketentraman dan kenyamanan mereka peroleh. Kalaupun ada kedzoliman yang menimpa mereka ketika mereka hidup, tanpa ada kemampuan membalasnya didunia, mereka masih ada harapan di akhirat kelak akan mampu menuntut keadilan yang seadil adilnya.

Sedang wahdah jakarta dalam tulisannya mengatakan:
Makna dan maksud Waliy pada frasa Allahu waliyyulLadzina Amanu di atas adalah penolong dan pembantu, pecinta, pemberi hidayah, sebagaimana dikatkan oleh Imam Al-Baghawi (1/273). Jadi maksud Allah sebagai Waliy bagi orang beriman adalah:

Allah akan selalu menolong dan membantu orang-orang beriman,
Allah mencintai orang beriman,
Allah membimbing dan meneguhkan orang beriman di atas hidayah dan petujuk-Nya
Allah memenuhi dan mengurusi keperluan orang-orang beriman

Kesemua karunia di atas sesungguhnya merupakan balasan dari janji Allah kepada para Waliy-Nya dah hamba-hambaNya yang beriman, sebagaimana dalam Hadits Qudsi tentang keistimewaan wali-wali Allah.

Diriwayatkan Imam Bukhari dan Shahabat Abu Hurairah r.a Rasulullah saw bersabda:
إن الله تعالى قال: من عادى لي وليا فقد أذنته بالحرب وما تقرب إلـي عبدى بشيئ أحب إلـي مما افترضته عليه ولايزال عبدى يتقرب الـي بالنوافل حتى احبه فاذا احببته كنت سمعه الذى يسمع به وبصره الذى يبصربه ويده التى يبطش بها ورجله التى يمشى بها وإن سألنى لأعطينه وإن استعاذنـي لأعيذنه
“Dan jika hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah tambahan (nawafil/nafilah), maka Aku pasti mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, (Akulah) penglihatannya yang dengannya dia melihat, (Akulah) tangannya yang dengannya dia memegang, dan (Akulah) kakinya yang dengannya dia berjalan, Jika dia meminta Aku kabulkan dan jika dia memohon perlindungan Aku pasti melindunginya”.
(HR. Bukhari)

Itulah hakikat dan makna Allah sebagai waliy bagi orang beriman, sebagaimana sebaliknya orang beriman merupakan wali Allah. Sebagaimana firman Allah,

(أَلَاۤ إِنَّ أَوۡلِیَاۤءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ ۝ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ یَتَّقُونَ)
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”
[Surat Yunus: 62-63]

Adapun republika.com mengatakan:
AlQuran terdapat sekian banyak janji mulia dan istimewa yang ditawarkan kepada orang-orang yang memiliki keimanan, baik janji-janji di dunia maupun janji-janji di akhirat. Janji-janji akhirat yang diberikan bagi mereka yang beriman tidak terhitung jumlahnya dalam kitab suci itu karena amat banyak.

Adapun janji-janji di dunia yang disebut secara terang-terangan (eksplisit), setidak-tidaknya ada sepuluh macam. Berikut ini adalah sepuluh janji di dunia itu.

  1. Allah SWT berjanji akan menolong orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah SWT,
    …Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”
    [Surat Ar-Ruum: 47]
  2. Diberikan advokasi atau pembelaan (ad-difa’). Allah SWT berfirman,
    ”Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang ber-iman…”
    [Surat Al-Hajj:38]
  3. Mendapatkan perlindungan kasih sayang (Al-wilayah). Allah SWT berfirman,
    ”Allah Pelindung orang-orang yang beriman…. ”
    [Surat Al-Baqarah: 257]
  4. Ditunjukkan kepada jalan yang benar (Al-hidayah). Didasarkan firman Allah SWT,
    ”… Sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang- orang yang beriman kepada jalan yang lurus. ”
    [Surat Al-Hajj: 54]
  5. Orang-orang kafir tidak akan diberikan jalan untuk memusnahkan mereka dari muka bumi (adamu taslithiil kafirin). Allah SWT berfirman,
    “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir.”
    [Surat An-Nisa’: 141]
  6. Diberikan kekuasaan di dunia dan diberikan kemapanan dalam segala bidang. Allah SWT berfirman,
    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah meiyadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan (memberikan kemapanan) agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka.”
    [Surat An-Nuur: 55]
  7. Keberkahan dari langit dan bumi, seperti sumber daya alam yang melimpah serta rezeki yang lezat (Al-barakah dan ar-rizqu ath-thayyib). Allah SWT berfirman,
    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
    [Surat Al-A’raaf: 96]
  8. Kemuliaan dan kejayaan (Al-izzah). Allah SWT berfirman,
    ”Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang yang berinar (mukmin).”
    [Surat Al-Munafiquun: 8]
  9. Kehidupan yang baik (al-hayah ath-thayyibah) Allah SWT berfirman,
    “Barangsiapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki mau¬pun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
    [Surat An- Nahl: 97]
  10. Diberikan kemenangan (Al-fAth). Allah SWT berfirman,
    ”Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenang¬an (kepada Rasul-Nya) atau suatu keputusan dari sisi-Nya..”
    [Surat Al-Maa’idah: 52]

Dengan janji-janji yang menggiurkan tersebut tentu kualifikasi (penyeleksian) orang-orang yang dikategorikan sebagai memiliki keimanan sangat ketat. Jika tidak, tentulah banyak orang, bahkan semua orang, yang akan mengaku-aku diri sebagai orang beriman

(بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ الۤمۤ ۝ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن یُتۡرَكُوۤا۟ أَن یَقُولُوۤا۟ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا یُفۡتَنُونَ ۝ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَیَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ صَدَقُوا۟ وَلَیَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِینَ)
Alif lam mim, apakah manusia mengira dibiarkan mengatakan saya beriman dan mereka belum diuji, sungguh telah kami uji orang orang sebelum mereka daan pasti Allah akan mengetahui siapa yang benar dengan ucapannya dan siapa yang dusta dengan ucapannya.
[Surat Al-Ankabut: 1 – 3]

Semarang, 4 Januari 2021

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *