Semarang — DPD PKS Kota Semarang bekerja sama dengan Cakep’s Semarang menggelar kegiatan Sekolah Ayah dengan tema “Menguatkan Pondasi Rumah Tangga untuk Mewujudkan Keluarga Samara” pada 28 Oktober lalu di Auditorium Balai Kota Semarang. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Cahyadi Takariawan sebagai narasumber.
Peran Qawwam (Pemimpin) Yang Harus Dibekali Ilmu
Dalam penyampaian materinya, Ustadz Cahyadi menekankan pentingnya pembenahan peran laki-laki sebagai qawwam (pemimpin) dalam keluarga. Ia menyampaikan bahwa selama ini pembahasan tentang perempuan jauh lebih banyak dibandingkan pembahasan tentang laki-laki, padahal laki-laki adalah pihak yang memegang peran kepemimpinan dalam rumah tangga.
“Pembahasan tentang perempuan jauh lebih banyak daripada pembahasan tentang laki-laki. Padahal ar-rijalu qawwamuna ‘alan nisa’. Yang menjadi qawwam itu yang harus dibenahi terlebih dahulu, yang harus mengerti terlebih dahulu,” ujarnya.
Belajar Sebelum Mengajarkan
Ia mencontohkan bagaimana Khalifah Umar pernah memerintahkan para laki-laki untuk mengajarkan Surat An-Nur kepada istri-istri mereka. Menurutnya, perintah tersebut mengandung pesan mendalam tentang tanggung jawab keilmuan seorang suami.
“Ketika Khalifah Umar memerintahkan, ‘alimu nisa’akum bisurati an-nur’ — ajari istri-istrimu Surat An-Nur — itu bukan sekadar perintah agar istri belajar. Justru yang pertama-tama dituntut harus paham adalah laki-laki. Bagaimana mungkin seorang suami mengajarkan sesuatu jika ia sendiri belum memahaminya?” jelasnya
Pesan tersebut menegaskan bahwa laki-laki sebagai qawwam harus memiliki kesiapan ilmu sebelum membimbing keluarganya. Seorang ayah tidak cukup hanya menyandang status kepala keluarga, tetapi juga harus terus belajar agar mampu memberikan arahan, pendidikan, dan keteladanan yang benar bagi istri dan anak-anaknya.
Ayah Sebagai Sumber Inspirasi dan Motivasi
Dalam sesi wawancara, Ustadz Cahyadi juga menegaskan bahwa ayah merupakan sumber inspirasi dan motivasi dalam keluarga.
“Ayah adalah sumber inspirasi, sumber motivasi dalam keluarga. Dia kepala keluarga, dia pemimpin dalam keluarga. Ketika ayah dalam situasi yang positif, enerjik, dan saleh, itu akan menjadi sumber inspirasi dan motivasi kebaikan bagi anak-anaknya,” jelasnya.
Ia berharap program Sekolah Ayah dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. Menurutnya, para ayah harus terus belajar karena kehidupan dan tantangan pengasuhan terus berkembang seiring pertumbuhan anak.
“Sekolah Ayah harus terus diadakan rutin. Kita para ayah harus terus-menerus belajar. Kehidupan berkembang, peran berkembang, anak-anak juga tumbuh kembang. Kalau pembelajaran tidak berkelanjutan, akan ada keterputusan antara tugas perkembangan dengan ilmu yang dimiliki,” ungkapnya.
Komitmen PKS Perkuat Ketahanan Keluarga
Sementara itu, Ketua DPD PKS Kota Semarang, Ali Umar Dhani, menegaskan bahwa peran ayah sangat vital dalam membangun ketahanan keluarga.
“Sangat penting sekali. Peran ayah di dalam keluarga menjadi penguat bersama ibu dalam membuat ketahanan keluarga. Insya Allah dengan adanya peran ayah, keluarga menjadi sebuah tatanan yang komplit, tidak hanya peran ibu saja yang selama ini dikuatkan dalam pembentukan kekuatan keluarga di rumah,” tuturnya.
Ia juga berharap Sekolah Ayah dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan sistem batch, misalnya enam hingga sepuluh pertemuan dalam satu tahun, sehingga para ayah mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya peran ayah dalam pola pengasuhan di dalam keluarga.
Melalui kegiatan ini, DPD PKS Kota Semarang menegaskan komitmennya dalam memperkuat institusi keluarga sebagai pondasi utama pembangunan masyarakat. Sekolah Ayah diharapkan menjadi ruang pembelajaran berkelanjutan bagi para ayah untuk menghadirkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.