Kota Semarang Perlu Wujudkan Perda Ketahanan Keluarga

  • Whatsapp

SEMARANG – Tingginya angka perceraian di Indonesia dan permasalahan keluarga baik dari segi kesehatan rohani dan jasmani menunjukkan betapa semakin mendesaknya pewujudan ketahanan keluarga bagi masyarakat. Ketahanan keluarga perlu disokong oleh banyak pihak, baik dari keluarga itu sendiri, kebijakan publik, serta peran serta masyarakat secara umum.

Untuk itulah, Kota Semarang perlu memiliki Perda tentang Ketahanan Keluarga. Apalagi perda tersebut sudah disahkan di tingkat provinsi Jawa Tengah, yakni Perda No. 2 tahun 2018 tentang Pembangunan Ketahanan Keluarga.

“Karena di Provinsi sudah ada (Perda tentang Ketahanan Keluarga). Untuk itu bisa terwujud, kami mengundang LSM, masyarakat, dan perwakilan legislatif. Karena kami menyadari isu ini semestinya menjadi isu bersama. Tidak bisa dari satu bagian saja,” ujar Ketua BPKK PKS Kota Semarang, Rita Rhoy Kana, S.S.

Dalam pertemuan Focus Group Discussion (FGD) Ketahanan Keluarga dari BPKK DPD PKS Semarang, Jumat (24/1/2020), Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Depok Hj. Sri Rahayu Purwitaningsih, Sc mengemukakan, ketahanan keluarga adalah faktor penting dalam membangun bangsa. Bangsa dan keluarga adalah dua faktor yang tak bisa dipisahkan. Dalam kebijakan publik, gagasan bisa berasal dari masyarakat. Setelah tersahkan, implementasinya pun tak lepas dari peran masyarakat.

 “DPRD bisa dibantu masyarakat untuk usulan, itu sangat berarti,” ujar Sri Rahayu yang juga merupakan Ketua Departemen Kajian Perempuan, Anak dan Keluarga BPKK DPP PKS, serta Istri dari ketua DPP PKS Tifatul Sembiring.

Dalam pemaparannya berdasarkan Hasil Susenas 2015, terdapat 4,63% rumah tangga tidak memiliki tempat tidur, dan ada 2,77% rumah tangga tidak punya lokasi tempat untuk tidur. Tempat tinggal yang sempit dan minim sekat tidak hanya menimbulkan masalah kesehatan fisik, tapi juga berdampak pada kesehatan psikologis anggota keluarga.

“Tiap jam, terdapat 41 pengajuan kasus gugatan cerai, di Indonesia” ujar Sri Rahayu. Dalam diskusi ini, seorang peserta menyatakan keresahannya akan banyaknya anak yang merasa kesepian dan sedikit waktunya bersama orang tuanya. Bahkan akhir-akhir ini pun, bangsa Indonesia “disentak” dengan berita seorang remaja yang bunuh diri.

Diskusi ini mendorong kota Semarang untuk turut mewujudkan Perda mengenai Ketahanan Keluarga. “Ketahanan keluarga mencakup empat aspek yakni spritualitas, fisik dan finansial, psikologi, dan sosial budaya,” Ujar Direktur LSM Bunda dan Buah Hati, Nuraini  S.S yang hadir dalam diskusi tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *