Ustadz Cahyadi Takariawan: Merajut Harmoni di Tengah Pandemi (Part 1)

  • Whatsapp

Situasi yang tidak pernah kita sangka, datang menghampiri di tahun 2020 ini. Semuanya seperti serba “tiba-tiba”, mengubah pola hidup masyarakat hampir di seluruh dunia. Setelah berdiam di rumah beberapa lama untuk mencegah penyebaran virus COVID-19, sekarang mulai ada pembiasaan baru untuk pola hidup yang lagi-lagi tak biasa.

Perubahan hidup ini, memberi warna pula pada kehidupan keluarga di rumah. Untuk tetap menjaga keharmonisan di masa pandemi yang belum tahu kapan berakhirnya ini, Ustadz Cahyadi Takariawan, pakar Parenting dan Ketahanan Keluarga, serta penulis buku “Wonderful Marriage” ini membagikan beberapa wawasan kepada kita, dalam acara Halal Bihalal Online bersama PKS Kota Semarang.

Muat Lebih

Pandemi Datang, Karantina , Perceraian Meningkat Tinggi?

Dengan adanya Pandemi COVID-19, negara-negara di dunia menerapkan kebijakan lockdown supaya orang-orang tidak berkeliaran dan berkerumun di luar rumah dengan kemungkinan membawa virus dan menyebarkan kepada yang lainnya.

Seperti kita tahu, Italia benar-benar sangat ketat menerapkan lockdown di kotanya dengan hukuman yang sangat berat ketika ada warga yang nekat keluar rumah. Bisa kita akses informasi, bagaimana warga di India yang tetap berkeliaran dipukuli oleh petugas.  Demikian pula di China dan berbagai negara lainnya, negara-negara di Eropa menerapkan aturan-aturan yang sangat ketat.

Tapi kemudian kita jumpai, ada fenomena yang di balik itu.

Bahwa setelah mereka menerapkan work from home, learning from home, stay at home, berkumpul bersama dengan semua anggota keluarganya, bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan. Yang mereka temui adalah justru meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). China, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Erope melaporkan tingginya angka perceraian, hingga dapat dikatakan, tak hanya COVID-19 yang menjadi wabah, tapi juga kasus perceraian.

Sekjen PBB António Guterres menyatakan, terjadi peningkatan KDRT dalam jumlah yang sangat mengerikan. Guterres pun menyeru untuk melakukan gencatan senjata terhadap KDRT, jangan lagi ada kekerasan di antara keluarga ketika kita sedang masa “berdiam di dalam rumah” ini.

Mari simak pandangan Ustadz Cahyadi Takariawan mengenai kemungkinan penyebab keretakan rumah tangga di masa Pandemi di mancanegara ini.

1. Denial (Penolakan)

Terjadi penolakan ketika datang wabah COVID-19 dan juga karantina. Menurut konsep five stages of grieves, normalnya manusia ketika menghadapi krisis, tekanan, dan kedukaan, tahap pertama adalah penolakan. Tidak siap dengan situasi tersebut. Tidak ada yang berharap. Tiba-tiba harus tinggal di rumah tanpa perencanaan sama sekali.

2. Tekanan Keadaan yang Luar Biasa  

Hilangnya kebebasan, dan privasi, tidak ada lagi ruang-ruang pertemanan yang nyata dan serba berganti menjadi online, kegiatan yang monoton, bisa menumpuk tekanan. Terlebih bagi mereka yang tinggal di rumah yang sempit dengan anggota keluarganya banyak, sehingga mereka hanya bertemu orang-orang yang sama setiap waktu.

Dagangan tidak berjalan semulus biasanya, atau bahkan tidak bisa berdagang sama sekali. Adapula yang baru merintis usaha dan belum sempat ada hasilnya, sudah terkena dampak pandemi Corona.

3. Tak Adanya Keseimbangan

Salah satu yang hilang di saat pandemi Corona itu adalah keseimbangan dalam keluarga, yakni antara togetherness (kebersamanaan) dengan separateness (ketidakbersamaan).

Contohnya, di masa normal tanpa pandemi, ketika suami berada di kantor, istri pun bekerja, anak-anak sekolah atau kuliah. Itulah separateness. Kemudian, sampai di rumah, mereka berkumpul kembali.  Itulah togetherness.

Secara tidak sengaja, keluarga itu telah menciptakan sebuah pola keseimbangan antara pola togetherness dengan separateness. Jika keseimbangan terganggu, terjadilah ketimpangan.

Kita ambil contoh dari pasangan LDM (Long Distance Marriage), jika tidak disikapi dengan tepat hingga terlalu banyak separateness, bisa menimbulkan kekeringan cinta di antara mereka, karena jarang bertemu.

Sebaliknya, jika terlalu banyak togetherness, bersama terus, kurang separateness bisa pula menimbulkan kejenuhan atau kebosanan, jika tidak bisa mengelola ketidakseimbangan itu.

Misalnya, ada sepasang suami istri yang kerja di tempat yang sama, di bagian yang sama. Berangkat bersama, di kantor bekerja di bagian yang sama, kemudian istirahat pun makan siang bersama. Setelah itu, pulang kantor pun bersama-sama lagi. Sampai rumah, bersama-sama pula.

4. Terjebak dalam Family Technostress

Ada yang sibuk main game, ada yang sibuk ngobrol via whatsapp, sibuk masing-masing di gadget-nya. Satu keluarga berada di satu rumah setiap hari, tapi tidak saling berkomunikasi karena sudah sibuk sendiri.

Di antara keluarga yang berujung pada perceraian dan KDRT di luar negeri sana di masa pandemi, ada yang terjebak pada apa yang disebut sebagai family technostress. Artinya, stress yang muncul akibat jebakan teknologi. Yang oleh ilmu sosial disebut bahwa mereka sebagai anggota keluarga ini terkurung oleh techno-cocoan, yaitu, kepompong teknologi. Dalam masa lockdown atau karantina, mereka menjadi jenuh hingga mereka mencari kesibukan sendiri-sendiri dengan gadgetnya.

Jadi, akhirnya jebakan teknologi ini bisa memperparah keadaan jika tidak mereka sadari.

5. Timbul Kemarahan

Kondisi inilah yang bertumpuk-tumpuk pada keluarga-keluarga itu, yang memunculkkan bentuk eksplorasi kemarahan, emosi, kemudian pukulan, tendangan, KDRT, kata-kata kasar, dan seterusnya. Membuat ketidaksabaran di antara mereka, hingga mereka memutuskan bercerai. Terjadilah peningkatan perceraian dalam jumlah yang sangat tajam.

Lalu bagaimana kita sebagai warga yang beriman dan bertakwa menghadapi Pandemi ini? Mari simak pada artikel Bagian 2.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *