Ustadz Cahyadi Takariawan: Merajut Harmoni di Tengah Pandemi (Part 2)

  • Whatsapp
Pakar Parenting dan Ketahanan Keluarga

Setelah mencoba memberikan beberapa kemungkinan penyebab renggangnya rumah tangga di saat Pandemi pada bagian 1, mari kita simak faktor penting untuk menguatkan kondisi keluarga kita, dari Ustadz Cahyadi Takariawan.

1. Fondasi Keluarga

Muat Lebih

Apapun bangunan yang kita buat, tentu kita harus selalu mempertimbangkan dan  memperhatikan kuatnya fondasi, seperti halnya dalam hidup berkeluarga.

Bagi insan beriman, fondasi pernikahan dan berumah tangga kita letakkan pada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Fondasi inilah yang menjadi kekuatan yang membimbing kita dalam menentukan pilihan.  

Dalam kasus pandemi ini, tak sedikit orang yang belum menemukan jalan keluar dari masalahnya. Contohnya, dagangan di luar sana tidak mendulang hasil. Lantas, apa yang harus dilakukan, bagaimana cara bertahan hidup?

Ilmu itu mungkin tidak pernah kita miliki sebelumnya untuk menghadapi Corona. Tapi kalau kita bertakwa kepada Allah SWT, Allah yang akan bimbing kita. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu,” (QS. Al-Baqarah : 282)

Dalam kehidupan ini, kita belajar banyak hal, meraih pendidikan dari berbagai sumber. Namun pada pelaksanaannya, dengan takwa lah Allah akan membimbing kita.

{ أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ }

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam” (QS. At-Taubah : 109)

Mari kita lihat tafsir dari Syaikh Dr Muhammad Sulaiman Al Asyqar, dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir

“Barangsiapa yang menginginkan tingginya bangunan yang ia dirikan, maka hendaklah ia memperkuat pondasi dan struktur bangunannya. Karena inti dari kekuatan suatu bangunan ada pada pondasi dan baiknya perancangan struktur. Sebagaimana halnya seseorang yang memiliki cita-cita yang tinggi, harus memperbaiki asas untuk menggapai keinginannya.”Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir: Syaikh Dr Muhammad Sulaiman Al Asyqar

Yakinlah juga bahwa takwa adalah bekal terbaik.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.QS. Al-Baqarah: 197

“Bekal yang sebenarnya yang tetap mesti ada di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang mesti dibawa untuk negeri akhirat yang kekal abadi.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 92)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata,

2. Meningkatkan Level Kebahagiaan

Mari kita kenali dulu beberapa level kebahagiaan. Ternyata bahagia juga bisa dikenali dari berbagai tingkatan.

  • Bahagia sesaat / momentary feelings.

Momentary feelings artinya kebahagiaan yang didapatkan karena manusia mendapatkan apa yang diinginkan. Berupa kondisi emosi yang positif. Misalnya orang haus, merasa bahagia ketika mendapatkan segelas air minum. Namun sepuluh gelas yang diberikan berikutnya, tidak lagi membuatnya bahagia. Inilah yang sering disebut oleh orang, “Bahagia itu sederhana”. Mudah didapatkan, mudah pula hilang. Kebahagiaan seperti ini bertahan dalam hitungan menit atau jam.

  • Bahagia sementara / judgement about feelings

Judgement about feelings adalah saat orang mengatakan bahwa mereka bahagia dengan hidup mereka, namun bukan berarti mereka mengalami kebahagiaan sepanjang waktu. Ini masih menyangkut kondisi emosi, namun lebih bertahan dibandingkan dengan Momentary Feelings. Misalnya, kebahagiaan dirasakan ketika seseorang berhasil mencapai target atau prestasi, kenaikan pangkat, kenaikan jabatan, dan yang semacamnya. Kebahagiaan yang muncul bertahan beberapa bulan hingga beberapa tahun.

  • Bahagia sesungguhnya / quality of life.

Quality of life adalah kebahagiaan yang tidak lagi berupa kondisi emosi sesaat, namun menjadi kualitas kehidupan itu sendiri. Kebahagiaan tidak lagi tergantung kepada hal-hal yang ‘sesuai keinginan’. Manusia bisa selalu berbahagia di berbagai keadaan. Nah, inilah kebahagiaan orang beriman. Mereka memiliki kualitas kehidupan yang membahagiakan.

Seperti apa kualitas hidup orang yang beriman? Hayatan thayibah. Yakni kualitas kehidupan yang baik. Kebahagiaan yang mereka dapatkan tidak didasarkan kepada kondisi emosional sesaat — apakah sesuai keinginan atau tidak.

Mari kita lihat QS An-Nahl:97

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(QS An-Nahl : 97)

Allah berfirman dalam ayat berikut:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus : 58)

Musibah adalah pemberian Allah. Ramadhan adalah pemberian Allah. Bagi orang yang punya keyakinan kuat kepada Allah, semua yang Allah berikan adalah baik baginya. Dalam ujian pandemi ini, manusia bisa saja mengalami fase denial atau penolakan. Namun lain ceritanya jika kita meyakini secara penuh kepada Allah, bahwa ujian baik bagi kita.

Kadang-kadang, kita seperti “dipaksa” oleh Allah SWT untuk menerima ini, karena Allah tahu bahwa ini nanti ujungnya adalah kebaikan dan akan bisa meningkatkan kebaikan dan hidup kita semuanya, sehingga Allah berikan kondisi yang sekarang ini kepada kita.

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Bahkan, musibah bagi mukmin juga tergolong dalam sebuah nikmat. Mukmin meyakini bahwa musibah itu bisa menjadi penyebab dihapuskannya dosa-dosa. Siapa yang tidak ingin dosa-dosanya terhapuskan?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Datangnya musibah-musibah itu adalah nikmat, karena ia menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa”.

“Musibah itu sendiri dijadikan oleh Allah sebagai sebab penghapus dosa dan kesalahan. Bahkan ini termasuk nikmat yang paling agung. Maka seluruh musibah pada hakikatnya merupakan rahmat dan nikmat bagi keseluruhan makhluk….”

  • Bahagia paripurna / meaningful life

Inilah kebahagiaan yang tak tergantikan di dunia ini. Meaningful Life adalah kehidupan yang penuh makna bagi orang lain. Orang yang memiliki kebahagiaan paripurna adalah ketika mampu memberikan makna kepada orang lain

“Jika kamu hidup untuk dirimu sendiri, betapa pendek kehidupanmu. Namun jika kamu hidup untuk membantu orang lain, betapa Panjang kehidupanmu”(Fi Zhilalil Qur’an)

Membantu tidaklah menyulitkan. Kita bisa bantu saudara kita dengan apa yang kita miliki, bahkan dari tutur kata yang baik.

“ Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah senantiasa akan   menolongnya. Barangsiapa melapangkan kesulitan orang Muslim, maka Allah akan melapangkan baginya dari salah satu kesempitan di hari Kiamat dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim, maka Allâh menutupi (aib)nya pada hari Kiamat”(HR. Bukhari no. 2442 dan 6951, Muslim no. 2580)

Rasulullah saw bersabda: “Lindungi diri kalian dari neraka, walau dengan (sedekah) separuh kurma. Jika tidak ada, maka (bersedekahlah) dengan tutur kata yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Family Time : Kuatkan Komponen Cinta

Cinta yang menjalin suami dan istri, memiliki tiga komponen aktif yang penting untuk dipenuhi, yaitu komitmen (commitment), gairah (passion) dan kelekatan (intimacy). Ketika #WorkFromHome dan #StayAtHome kuatkan kembali ketiga komponen aktif tersebut. Miliki waktu berdua, walau hanya di rumah saja, untuk berbicara dari hati ke hati, dan saling menguatkan dalam menghadapi masa-masa sulit ini.

Mudah-mudahan kita semua bisa bertahan dan berhasil menjadi insan yang lebih baik dalam menjalani ujian ini.

Sumber: Ceramah Ustadz Cahyadi Takariawan dalam Halal Bihalal Online PKS Kota Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *