Zuber Safawi: Taubatlah…Jangan Kau Menyesal Ketika Sudah di Sana

  • Whatsapp

Zuber Syafawi, S. HI

Kesalahan adalah hak adami, yang setiap manusia mengalami kesalahan, Allohpun memaklumi kesalahan kesalahan yang dilakukan manusia, selagi manusia juga sadar dan menyesal mengapa ia melakukan hal yang seperti itu, nah penyesalan itu sangat penting bagi manusia, karena dengan adanya penyesalan manusia tak akan mengulangi lagi kesalahan kesalahan mereka.

Orang Arab sampai mengatakan bahwa taubah adalah penyesalan, taubah adalah salah satu rahmah Alloh yang diberikan pada ummat manusia, sampai Alloh akan menciptakan manusia yang berbuat salah dan meminta ampunan pada Alloh ketika seluruh anak cucu Adam sudah tidak ada lagi yang melakukan kesalahan.

Taubah makna aslinya adalah kembali,

pada kesucian sedang makna dakwah menurut syara’ adalah kembali pada Alloh setelah manusia melakukan kesalahan, manusia melakukan kesalahan pada Alloh lalu ia ingat dan segera beristighfar padaNya , karena hanya pada Alloh saja yang mampu memberi ampunan.

Proses taubah didahului dengan penyesalan yang amat sangat, diteruskan timbulnya tekad yang kuat untuk tidak mengulangi, dan dilanjutkan istighfar atau mengucapkan Astaghfirulloha Al adhim, atau bacaan istighfar yang lainnya, bagi seseorang yang dosanya menyangkut orang lain semisal mengambil barang orang lain atau hutang dan berniat untuk tidak membayar maka masih ada lanjutannya yaitu menemui orang yang menjadi korban kita, untuk mengembalikan barangnya dan minta maaf padanya atau membayar hutangnya.

Adapun di masyarakat ada tambahan tambahan yang beragam itu merupakan amalan tambahan! Ada tambahan Yang ada dasarnya seperti mandi dan ada yang tidak.

Apakah taubah itu penting,

jawabanya adalah sangat penting, orang seperti rosulullah yang terjaga dari perbuatan dosa saja masih bertaubat, apalagi manusia seperti kita kita ini, jelas lebih penting, disamping taubah itu merupakan perintah Alloh SWT.
(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةࣰ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن یُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَیِّـَٔاتِكُمۡ وَیُدۡخِلَكُمۡ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی ٱللَّهُ ٱلنَّبِیَّ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥۖ نُورُهُمۡ یَسۡعَىٰ بَیۡنَ أَیۡدِیهِمۡ وَبِأَیۡمَـٰنِهِمۡ یَقُولُونَ رَبَّنَاۤ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَاۤۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرࣱ)
[Surat At-Tahrim 8]

Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” ( At Tahrim 8)

Sudah barang tentu orang akan mudah kembali manakala mereka meyakini tujuan hidupnya dan mengerti kawan hidup yang mampu mengarahkan mereka untuk kembali. Secara umum saja kita harus tahu tujuan hidup kita diciptakan oleh Alloh, kita diciptakan oleh Alloh adalah tak lain dan tak bukan melainkan hanya untuk beribadah kepada Nya, selama kita hidup dikasih sarana makan, minum mempelajari ilmu Alloh dan ujian ujian agar kita bisa menyembahNya, dikasih petunjuk oleh Alloh dan janji janji Alloh yang mesti benarnya

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [Adzariyat 56]

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS: Adz-Dzariyat 56)

Dalam Alqur’an dan Hadits rosululloh itu , oleh ulama ulama yang berkapasitas dan mampu mengambil dari dalil atau yang sering disebut fuquha’ munculah hukum hukum, ada yang namanya wajib, adalah sesuatu yang harus di kerjakan kalau tidak Alloh pun akan menyiksanya di akhirat nanti, ada yang sunnah , adalah sesuatu yang apabila dikerjakan dapat pahala dan apa bila ditinggalkan tak mengapa, ada yang haram adalah sesuatu yang harus ditinggalkan, karena hal itu mengandung kekejianya, dan ada makruh adalah sesuatu yang bagus manakala ditinggalkan dan apabila dikerjakan tak mengapa dan yang terakhir adalah mubah sesuatu yang boleh ditinggalkan dan boleh dikerjakan, semuanya itu tidak ada ancaman maupun anjuran.

Dari sini orang bisa mengenali mana yang benar dan mana yang salah. Seperti orang yang menyetubuhi istrinya siang hari di bulan Romadhon, ini merupakan perbuatan yang salah, dan ketika ingat ia sangat menyesal, dan beristighfar pada Alloh.

Manusia akan mengalami penyesalan penyesalan yang banyak, yang dia tidak mungkin bisa memperbaikinya.

Penyesalan itu adalah, yang pertama, kiamat kecil, kiamat kecil yang dialami manusia ialah kematian seorang mulai menyesal ketika detik detik akhir usianya dan meyakini nyawanya tidak lama lagi keluar dari tubuhnya, informasi ini kita dapatkan dari Allah dalam surat Al Mukminun : 99 – 100
حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ– لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحٗا فِيمَا تَرَكۡتُۚ كَلَّآۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَاۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), . agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan (QS Al-Mukminun: 99 – 100)

Bentuk penyesalan yang kedua “gigit tangan, penyesalan seperti ini terjadi ketika seseorang di akhirat melihat sahabat karibnya menelantarkan dirinya dan tidak berdaya membelanya di sisi Allah, kali ini di terangkan dalam surat Al Furqon : 27 – 29
(وَیَوۡمَ یَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ یَدَیۡهِ یَقُولُ یَـٰلَیۡتَنِی ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِیلࣰا ۝ یَـٰوَیۡلَتَىٰ لَیۡتَنِی لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیلࣰا ۝ لَّقَدۡ أَضَلَّنِی عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَاۤءَنِیۗ وَكَانَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ لِلۡإِنسَـٰنِ خَذُولࣰا)
[Surat Al-Furqan 27 – 29]
Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zhalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.

Sayyid quthub rahimahullah berkata ia tidak hanya menggigit satu tangan tapi menggigit kedua tangan secara bergantian atau menggigit kedua tangannya sekaligus, karena begitu beratnya penyesalan yang terlihat saat menggigit kedua tangannya itu gerakan yang merfleksikan kondisi kejiwaan, lalu terlihat nyata

Penyesalan yang ketiga, ketika amal perbuatan diperlihatkan, ketika buku catatan amal perbuatan diletakkan dan manusia melihat seluruh perbuatannya, tiba tiba pelaku maksiat terkejut bukan main ternyata buku itu menulis semua kata yang ia ucapkan puluhan tahun yang lalu, surat al kahfi : 49
وَوُضِعَ ٱلۡكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُشۡفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗ

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzhalimi seorang jua pun.(QS Al Kahfi: 49)

Bahkan orang tersebut saking menyesalnya ingin menjadi tanah saja, sebagaimana dikabarkan dalam surat An Naba : 40.

Penyesalan keempat adalah ketika neraka didatangkan. Hadits Rasulullah mengatakan “ketika itu neraka yang punya 70.000 penahan didatangkan. Di setiap penahan itu ada 70.000 malaikat yang menariknya” hadits riwayat muslim.

Penyesalan yang kelima, ketika berdiri di neraka, Allah ta’ala berfirman dalam surat al an am : 27
وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ وُقِفُواْ عَلَى ٱلنَّارِ فَقَالُواْ يَٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.”(QS Al An’am: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ta’ala mengungkapkan kondisi orang orang kafir saat mereka berdiri di hari kiamat menyaksikan belenggu dan rantai di dalamnya serta melihat dengan mata kepala mereka sendiri hal hal yang dahsyat, saat itulah mereka berkata “duhai betapa celakanya kita”

Penyesalan keenam adalah saat dilempar ke neraka, Allah berfirman dalam Al ahzab : 66 – 68
(یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِی ٱلنَّارِ یَقُولُونَ یَـٰلَیۡتَنَاۤ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۠ ۝ وَقَالُوا۟ رَبَّنَاۤ إِنَّاۤ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاۤءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِیلَا۠ ۝ رَبَّنَاۤ ءَاتِهِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ ٱلۡعَذَابِ وَٱلۡعَنۡهُمۡ لَعۡنࣰا كَبِیرࣰا)

Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”(Al Ahzab 66 – 69)

Ibnu katsir rahimahullah berkata “maksudnya mereka diseret di neraka dengan kepala terbalik dan wajah mereka dibolak balik di neraka jahannam, mereka berharap andai mereka dikembalikan di dunia maka mereka akan bersama orang orang yang taat kepada Allah dan rasul.

Kini atas rahmat Alloh swt kita mengetahui bahwa kita akan ketakutan yang luar biasa dan kecewa yang luar biasa pula melihat kondisi kondisi yang sudah dibocorkan oleh Alloh dan diinformasikan pada kita sebelum semuanya terjadi , karena kasih sayangnya maka wahai manusia bertaubatlah kepada Alloh,dengan taubatan nasuha.

Kita tak akan kecewa seperti kondisi ummat yang dijelaskan diatas, manakala penyebab penyebabnya sudah kita ketahui dan kita hapus dengan taubat kepada Allab, semoga taubat kita diterima hingga kita bersih dari segala dosa yang menimbulkan siksa. Karena kalau kita sudah di sana maka kita tak akan mampu berbuat atau menipu dzat yang maha mengetahui.

Semarang, 13 oktober 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *