Tawakkalah Pada Allah, Karena Kamu Tak Memiliki Kekuatan

  • Whatsapp

Zuber Safawi S, HI.

Manusia hidup karena manusia bisa bergerak, tumbuh, dan berkembang.

Manusia sejak mulai ada di perut ibunya masing masing, manusia melakukan usaha gerak sampai usianya ia harus lahir, setelah lahir sampai mati kelak mereka melakukan usaha usaha, ada yang sukses luar biasa, ada yang biasa saja dan ada yang mendapatkan sesuatu yang kurang biasa.

Kebanyakan manusia mengira kemampuan yang dimilikinya itu adah kemampuanya sendiri, ia melupakan ada Dzat yang memberi daya dan kekuatan padanya.

Bagi manusia yang agak bijak ia berpendapat ada faktor “x” yang membuat manusia punya kekuatan, sedang orang yang beriman karena yakin bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Agung , bijaksana, ‘alim, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu maka ia pun beriman kepadaNya beriman bahwa seluruh firmannya adalah benar serta janji janji Allah yang ada dalam al Qur’an dan As Sunah adalah mesti benarnya.

Karenanya orang beriman menyerahkan seluruh keputusan pada Allah SWT dan itulah yang namanya tawakkal.

Ibnu Rojab dalam bukunya Jami’atul Ulum wal hikam mengatakan ketika menjelaskan hadits yang ke 49,

Tawakkal adalah penyandaran hati pada Allah untuk meraih berbagi kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat menyerahkan urusan semua urusan kepadanya serta meyakini dengan sebenar benarnya bahwa tidak ada memberi atau menghalangi atau mendatangkan bahaya/manfaat kecuali Allah semata.

Berbicara tawakkal itu tak mungkin berdiri sendiri, tapi harus melibatkan iman kepada Allah SWT, oleh karena itu tawakkal menurut istilah agama adalah menyerahkan seluruh keputusan karena iman padaNya setelah manusia mengusahakan sesuai dengan fungsi manusia. Tawakkal akan menjadi lebih penting bagi manusia yang bekerja penuh resiko seperti dakwah ila Allah, itu merupakan pekerjaan yang penuh resiko sehingga tawakkal kita pada Allah harus lebih tinggi.

Apakah tawakkal merupakan perintah Allah? Jawabannya adalah ya.

Salah satu perintah Allah agar kita tawakkal adalah dalam al Qur’an surat Al-Anfal ayat 51

قُل لَّن یُصِیبَنَاۤ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡیَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.”
[Al-Anfal: 51]

Dalil lainnya adalah dalam surat Al Maidah ayat 23

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.”
[Al-Ma’idah: 23]

Dan banyak lagi dalil yang semisal dengan itu.

Tawakkal juga harus total tidak boleh sebagian sebagian.

Artinya, tawakkal dalam urusan hidup juga tawakkal dalam urusan usaha. Terkadang, manusia bertawakkal untuk urusan hidupnya tapi tidak dalam usaha. Yang demikian itu namanya tawakkal sebagian. Karena perintah Allah pun beragam, contohnya ada perintah yang bersifat umum agar manusia bertawakkal Allah pun pasti akan mencukupi seperti

وَیَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُۚ وَمَن یَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥۤۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَیۡءࣲ قَدۡرࣰا
dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu
[Surat Ath-Thalaq 3]

Tawakkal kadang mengenai keteguhan hati dalam kebenaran,

sebagai mana tertera pada surat An Naml ayat 79

(فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِینِ)
Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh engkau (Muhammad) berada di atas kebenaran yang nyata.
[Surat An-Naml 79]

Keyakinan yang kuat akan janji janji Allah maka Rasul pun di minta untuk tawakkal kepada Allah, karena Allah sajalah yang pasti menempati janjinya dan Allah pasti melindungi Rasulnya. Juga ada perintah tawakkal dalam masalah perdamaian

۞وَإِن جَنَحُواْ لِلسَّلۡمِ فَٱجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
[Surat Al-Anfal: 61]

Ini juga persoalan keimanan pada Allah SWT seolah olah Allah mengatakan padamu, jangan khawatirkan musuh musuhmu itu, karena musuhmu itu masuk dalam genggamanku.

Ada juga tawakkal kalau kita sedang menghadapi musuh sebagaimana petunjuk Allah dalam surat An Nisa ayat 81

وَيَقُولُونَ طَاعَةٞ فَإِذَا بَرَزُواْ مِنۡ عِندِكَ بَيَّتَ طَآئِفَةٞ مِّنۡهُمۡ غَيۡرَ ٱلَّذِي تَقُولُۖ وَٱللَّهُ يَكۡتُبُ مَا يُبَيِّتُونَۖ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا
Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan, “(Kewajiban kami hanyalah) taat.” Tetapi, apabila mereka telah pergi dari sisimu (Muhammad), sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah mencatat siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung.
[Surat An-Nisa’: 81]

Perang adalah salah satu syariat Islam yang sulit karenanya Allah sampai menurunkan ayat tersendiri tentang perang, dan Allah mengatakan dalam salah satu ayatnya dalam surat Al Baqarah yang artinya perang adalah sesuatu yang kamu benci. Hal ini menunjukkan bahwa peperangan adalah sesuatu aktifitas yang secara duniawiyah itu merugikan, karena orang yang sedang berperang kalau mereka beruntung setidak tidaknya luka fisik maupun luka hati pasti terjadi pada orang yang mengikuti peperangan sedangkan kalau kalah maka hidup atau matinya sangat tergantung musuhnya. Sehingga perang termasuk aktifitas yang beresiko tinggi, maka Allah perintahkan pada Rasulullah untuk bertawakkal.

Juga perintah Allah untuk tawakkal setelah kita mengambil keputusan dan membulatkan tekad,

Allah perintahkan pada surat Ali Imron ayat 159.


فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
[Surat Ali ‘Imran, Ayat 159]

Orang yang sudah membulatkan tekad adalah orang yang yakin akan adanya pertolongan Allah, ketika resiko resiko datang menghampiri seseorang. Maka bagi orang yang dalam posisi seperti itu ia harus melanjutkan dengan tawakkal pada Allah SWT, hingga mereka memperoleh ketentraman karena Allah selalu mengikutinya melakukan pengawasan dan pertolongan.

Sedangkan hadits Rasulullah SAW setidaknya ada dua hadits Rasulullah tentang tawakkal artinya tawakkal itu sudah pasti merupakan sunnah Rasulullah yang harus juga kita ikuti

Soal tawakal ini pernah dijelaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Umar bin Khattab RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمكَمَا تُرْزَقُ
الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal maka Allah akan memberi rezeki kalian sebagaimana Allah memberi rezeki burung, pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang
(HR Tirmidzi)

Dalam kehidupan itu andaikan kita seperti binatang yang tiap pagi dia keluar cari rizqi dari tuhanNya dengan caranya masing masing ada yang terbang, berjalan dan ada melata serta ada Yang berenang maka binatang itu mendapatkan rizqi karena sudah di jamin oleh Allah dan sore pulang ke kandang masing masing dan kondisi seperti itulah yang dijanjikan Allah kepada ummat manusia apabila manusia bersungguh sungguh dalam bertawakkal pada Allah. Wahai manusia tawakkal kepada Allah dalam segala keadaan niscaya Allah lah yang akan menjamin kehidupan kita.


Dalam sebuah hadits diriwayatkan:
عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
(رواه الترمذي)
Dari Anas bin Malik RA, ada seseorang berkata kepada Rasulullah SAW. ‘Wahai Rasulullah SAW, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal, atau aku lepas ia dan aku bertawakal?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah.”
(HR. Tirmidzi)

Cukup jelas bagi kita, bahwa Rasul pun telah memberi contoh yang sempurna, dengan mengikat keledai lalu beliau sholat, hal ini mengandung pelajaran tentang usaha lebih dahulu secara maksimal dan fungsional baru tawakkal pada Allah.

Semarang, 20 Oktober 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *